Hi, How Can We Help You?

Tag Archives: tencel

PRESS RELEASE: Enchanted Memories [ALBERT YANUAR X PT. LAKUMAS]

Enchanted Memories
by Albert Yanuar

Spring-Summer 2021

Albert Yanuar

Kerinduan dan semangat untuk bisa kembali berwisata menjadi inspirasi koleksi Siap Pakai Premium Albert Yanuar. Industri pariwisata menjadi salah satu bidang yang terdampak oleh wabah Covid-19, sebagai seorang fashion designer Albert Yanuar merasa bertanggung jawab untuk lebih lagi mempromosikan kekayaan wisata dan budaya tanah air INDONESIA ke mancanegara.

Memori-memori indah tentang sebuah tempat yang pernah dikunjungi dituangkan kedalam busana seperti sebuah lukisan dengan menggunakan teknik bordir tangan yang menjadi kekuatan dari garis rancangan Albert Yanuar.

Di koleksi ini Albert Yanuar bekerjasama dengan PT. Lakumas memperkenalkan penggunaan Tencel Luxe dari Lenzing sebagai benang bordir yang terbuat dari bahan baku organik yang berkelanjutan sehingga lebih ramah lingkungan.

Tenun Songket Siak (RIAU)

Songket berasal dari ‘sungkit’ yang artinya mencungkil dan memerlukan proses mengait. Proses mencungkil dan mengait merupakan dua proses utama yang dilakukan dalam menghasilkan songket. Sebagian orang juga berpendapat bahwa songket berasal dari kata ‘songka’ yang artinya topi penutup kepala, atau ‘songkok’ yang merupakan daerah di Palembang tempat menghasilkan tenunan untuk penutup kepala. Selanjutnya kebiasaan tenunan ini berkembang pada kain dan pakaian.

Songket merupakan jenis kain yang biasanya ditenun menggunakan tangan, memiliki corak yang sedikit rumit dengan menggunakan benang emas ataupun perak. Songket telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Sementara di Indonesia, jenis kain ini dikenal sejak abad ke 13. Pada masa kerajaan Siak diperintah oleh Sultan Sayid Ali, beliau mendatangkan seorang ahli songket dari Kerajaan Terengganu Malaysia. Wanita pengrajin itu bernama Wan Siti Binti Wan Karim. Sultan memintanya mengajari para bangsawan Kesultanan Siak tentang tata cara bertenun. Oleh karena tahapan awal masuknya pengetahuan songket ini pada kalangan bangsawan, maka tak heran jika songket pada mulanya dikenal sebagai pakaian kebesaran kalangan kerajaan pada masa itu. Bagi para bangsawan, hal pakaian songket dianggap sebagai symbol kebesaran dan kebanggaan, dan bagi para pembuat songket memberikan simbol pengabdian kepada kerajaan. Pada perkembangannya, songket Siak tidak hanya dikenal oleh kalangan kerajaan saja, akan tetapi mulai menyatu dengan kehidupan masyarakat Siak.

Untuk lebih mempopularitaskan kerajinan songket yang ada di Indonesia  tentunya di tunjang juga dengan bahan bahan yang harus bagus dan  berkualitas agar kerajianan songket bisa lebih di kenal bukan di kalangan dalam negeri saja tapi juga kebeberapa  ke panca negara, di sini benang candimas dari PT. Laksana Kurnia Mandiri Sejati bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas bahan tenun songket karena  benang candimas terbuat dari serat Tencel yaitu serat organic dari pohon eucalyptus yang berasal dari hutan bersertifikat dan proses produksinya ramah lingkungan , kilau dan nyaman di pakai seperti sutra, benang ini dapat menyerap warna baik alami maupun sintetis , benang ini merupakan unggulan dari PT. Lakumas untuk Mendukung kerajinan textile dan tenun tradisional untuk saat ini.

Benang Lakumas Menjalin Tenun Nusantara

JAKARTA – PT Laksana Kurnia Mandiri Sejati (Lakumas) berpartisipasi dalam World Ikat Textile Symposium (WITS) 2019 yang diadakan di Museum Tekstil Jakarta, 23-25 Agustus lalu. Dalam pameran internasional tersebut, Lakumas memperkenalkan benang bermerk Candimas yang telah digunakan perajin dari daerah Toba, Sumatra Utara, sampai ke Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Maestro Tenun Ikat Sumba Kornelis Ndapakamang, penenun ikat warna alam dari Sumba sudah menggunakan benang dari Lakumas.

“Kualitas benang Candimas cukup bagus karena penyerapan warna maksimal dan tidak ada campuran benang-benang yang lain,” kata Kornelis yang juga membantu pelatihan tenun di beberapa daerah NTT dengan pewarna alami

Perwakilan PT Lakumas Araneta Halim (dua dari kanan) bersama Ketua Dekranas dan Ketua Dekranas Daerah.

Direktur PT Lakumas Erick Halim mengatakan, selama tiga hari pergelaran pameran internasional tersebut, Lakumas menjual benang sebanyak 100 kilogram kepada perajin tenun ikat dari Sarawak, Kalimantan Timur, Sumba, sampai ke Flores.

“Dengan hadirnya Lakumas dalam industri tenun ikat nasional, diharapkan bisa menjamin pasokan bahan baku berkualitas dengan harga yang stabil karena terbuat di dalam negeri,” ujar Erick.

WITS 2019 sendiri dibuka langsung Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Mufidah Jusuf Kalla bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ketua Dekranas Daerah DKI Jakarta Fery Farhati, Jumat (23/8) pagi. Acara ini diselenggarakan World Crafts Council (WCC) bekerja sama dengan Dinas Pariwisata DKI Jakarta.

Mufidah menyampaikan, penyelenggaraan WITS tahun ini adalah penyelenggaraan yang keempat kalinya setelah sebelumnya diadakan di negara-negara lain se-perti Inggris. Mufidah menyebut kain tenun ikat tersebar di banyak negara dan menjadi kain tradisional yang diakui sebagai warisan budaya berharga termasuk di Indonesia.

Untuk itu, pameran yang diadakan dalam WITS ini juga sangat penting bagi para seniman dan perajin agar bisa mengembangkan kemampuan yang dimiliki. “Kita semua dapat saling belajar dan berbagi dalam pengembangan tenun ikat untuk pengembangan warna, corak, ragam, dan desain,” ungkap Mufidah kepada wartawan.

Serat Tencel Untuk Fashion Ramah Lingkungan

Menurunnya kualitas lingkungan menuntut masyarakat untuk menggunakan produk-produk ramah lingkungan, termasuk fashion. Industri tekstil pun dituntut untuk memproduksi benang dan kain ramah lingkungan dengan menggunakan serat alami. Serat tencel merupakan bahan baku yang ramah lingkungan karena terbuat dari serat kayu (Lyocell).

New Age Fibre For Sustainable Textile – Adiwastra Nusatara 2019

PT Lakumas (Laksana Kurnia Mandiri Sejari) adalah perusahaan tekstil yang memproduksi benang tencel (industri pemintalan benang). Lakumas memiliki pabrik di Tegal dan Bandung dengan kapasitas mencapai 400 metrik ton per bulannya. Erick Halim, Director PT Lakumas mengatakan, pihaknya menggunakan serat tencel karena ramah lingkungan, penyerapan airnya lebih bagus, dan hemat penggunaan air.

“Kita terjun langsung ke pengrajin, kita melihat kondisi mereka secara langsung, sebagian besar mereka untuk ekspor.  Tapi saya miris melihat kampung mereka, karena selokan mereka berwarana hitam, merah, biru,” tutur Erick yang ditemui usai diskusi ‘New Age Fiber for Sustainable Textile”, di Jakarta, Sabtu, 23 Maret 2019 lalu

Berita selengkapnya di https://marketing.co.id/serat-tencel-untuk-fashion-ramah-lingkungan/