Benang Lakumas Menjalin Tenun Nusantara

JAKARTA – PT Laksana Kurnia Mandiri Sejati (Lakumas) berpartisipasi dalam World Ikat Textile Symposium (WITS) 2019 yang diadakan di Museum Tekstil Jakarta, 23-25 Agustus lalu. Dalam pameran internasional tersebut, Lakumas memperkenalkan benang bermerk Candimas yang telah digunakan perajin dari daerah Toba, Sumatra Utara, sampai ke Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Maestro Tenun Ikat Sumba Kornelis Ndapakamang, penenun ikat warna alam dari Sumba sudah menggunakan benang dari Lakumas.

“Kualitas benang Candimas cukup bagus karena penyerapan warna maksimal dan tidak ada campuran benang-benang yang lain,” kata Kornelis yang juga membantu pelatihan tenun di beberapa daerah NTT dengan pewarna alami

Perwakilan PT Lakumas Araneta Halim (dua dari kanan) bersama Ketua Dekranas dan Ketua Dekranas Daerah.

Direktur PT Lakumas Erick Halim mengatakan, selama tiga hari pergelaran pameran internasional tersebut, Lakumas menjual benang sebanyak 100 kilogram kepada perajin tenun ikat dari Sarawak, Kalimantan Timur, Sumba, sampai ke Flores.

“Dengan hadirnya Lakumas dalam industri tenun ikat nasional, diharapkan bisa menjamin pasokan bahan baku berkualitas dengan harga yang stabil karena terbuat di dalam negeri,” ujar Erick.

WITS 2019 sendiri dibuka langsung Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Mufidah Jusuf Kalla bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ketua Dekranas Daerah DKI Jakarta Fery Farhati, Jumat (23/8) pagi. Acara ini diselenggarakan World Crafts Council (WCC) bekerja sama dengan Dinas Pariwisata DKI Jakarta.

Mufidah menyampaikan, penyelenggaraan WITS tahun ini adalah penyelenggaraan yang keempat kalinya setelah sebelumnya diadakan di negara-negara lain se-perti Inggris. Mufidah menyebut kain tenun ikat tersebar di banyak negara dan menjadi kain tradisional yang diakui sebagai warisan budaya berharga termasuk di Indonesia.

Untuk itu, pameran yang diadakan dalam WITS ini juga sangat penting bagi para seniman dan perajin agar bisa mengembangkan kemampuan yang dimiliki. “Kita semua dapat saling belajar dan berbagi dalam pengembangan tenun ikat untuk pengembangan warna, corak, ragam, dan desain,” ungkap Mufidah kepada wartawan.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *