Hi, How Can We Help You?

Tag Archives: #BenangTenun

APEL PAGI BENTUK KEDISIPLINAN PT. LAKUMAS

Apel pagi merupakan bentuk dari kedisiplinan dari karyawan PT. Laksana Kurnia Mandiri Sejati (Lakumas). Apel sering dilaksanakan pada pagi hari, apel pagi ini merupakan semacam upacara yang tujuannya untuk memberikan pengarahan sebelum memulai pekerjaan. Apel juga digunakan untuk mengawasi siapa saja yang tidak hadir atau terlambat pada pagi hari.

 

Dengan apel pagi banyak manfaat yang bisa kita peroleh bersama,

  • Pembiasaan disiplin karyawan,
  • Sebagai sarana untuk penyampaian informasi penting.
  • Disamping itu dengan apel pagi rasa kekeluargaan dan kebersamaan dapat tercipta.

Jadi dengan adanya apel ini, setidaknya ada pertemuan bersama antar karyawan sebelum memulai aktivitas. setelah melakukan apel pagi diakhiri dengan bersalam – salaman sebagai bentuk keakraban, kekompakan dan menghilangkan rasa ketidaknyamanan yang mungkin terjadi dalam tugas.

PT. Lakumas yakin dengan adanya pelaksanaan apel pagi ini bisa menambah semangat kerja untuk hasil yang maksimal. Khususnya dalam menghasilkan produk benang-benang berkualitas untuk keperluan tenun, maupun rajut, yang dapat diterima oleh pasar lokal maupun ekspor.

PENGRAJIN TENUN ATBM DITROSO JEPARA BERSINAR KEMBALI BERKAT MENGERJAKAN TENUN SARUNG GOYOR

Dengan meluasnya wabah pandemi virus corona atau COVID-19, banyak industri terutama tekstil dari skala kecil sampai besar mengalami kesulitan ekonomi dan bangkrut karena terhentinya pesanan dari lokal maupun luar negeri.

Tidak terkecuali Desa Troso, Kabupaten Jepara yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidupnya dari tenun atbm (alat tenun bukan mesin). Seiring dengan terhentinya pesanan dari Bali, banyak para pengrajin tenun yang terpaksa berhenti menenun. Dengan tidak adanya aktivitas tenun, banyak pengrajin yang menganggur dan hasil tabungan mereka terkuras untuk membiayai kebutuhan kehidupan sehari hari.

Mendengar kondisi yang semakin memprihatinkan, LAKUMAS menghubungkan pengrajin tenun Troso dengan pengusaha sarung tenun goyor di wilayah Tegal yang merupakan pembeli setia benang LAKUMAS.

Kerja sama yang sudah berlangsung selama empat bulan terakhir ini berdampak positif bagi kedua belah pihak, baik pengusaha sarung tenun goyor yang mendapat banyak pesanan ekspor ke Afrika maupun pengrajin tenun di Desa Troso untuk menjalankan roda perekonomian di desa tersebut. Di awal bulan September 2020 ini, pengrajin tenun Troso mengirimkan ribuan potong sarung goyor setiap minggunya.

Sarung Goyor penyelamat ATBM TROSOPengalihan produksi daripada kain tenun Bali menjadi sarung tenun goyor di Troso tentunya akan berdampak bagi peningkatan penggunaan benang Rayon berkualitas, yang merupakan produksi rutin sejak 2012. LAKUMAS senantiasa mendukung IKM lokal di tengah pandemi dengan menjamin kestabilan pasokan benang tenun dengan harga kompetitif.

Tenun Songket Siak (RIAU)

Songket berasal dari ‘sungkit’ yang artinya mencungkil dan memerlukan proses mengait. Proses mencungkil dan mengait merupakan dua proses utama yang dilakukan dalam menghasilkan songket. Sebagian orang juga berpendapat bahwa songket berasal dari kata ‘songka’ yang artinya topi penutup kepala, atau ‘songkok’ yang merupakan daerah di Palembang tempat menghasilkan tenunan untuk penutup kepala. Selanjutnya kebiasaan tenunan ini berkembang pada kain dan pakaian.

Songket merupakan jenis kain yang biasanya ditenun menggunakan tangan, memiliki corak yang sedikit rumit dengan menggunakan benang emas ataupun perak. Songket telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Sementara di Indonesia, jenis kain ini dikenal sejak abad ke 13. Pada masa kerajaan Siak diperintah oleh Sultan Sayid Ali, beliau mendatangkan seorang ahli songket dari Kerajaan Terengganu Malaysia. Wanita pengrajin itu bernama Wan Siti Binti Wan Karim. Sultan memintanya mengajari para bangsawan Kesultanan Siak tentang tata cara bertenun. Oleh karena tahapan awal masuknya pengetahuan songket ini pada kalangan bangsawan, maka tak heran jika songket pada mulanya dikenal sebagai pakaian kebesaran kalangan kerajaan pada masa itu. Bagi para bangsawan, hal pakaian songket dianggap sebagai symbol kebesaran dan kebanggaan, dan bagi para pembuat songket memberikan simbol pengabdian kepada kerajaan. Pada perkembangannya, songket Siak tidak hanya dikenal oleh kalangan kerajaan saja, akan tetapi mulai menyatu dengan kehidupan masyarakat Siak.

Untuk lebih mempopularitaskan kerajinan songket yang ada di Indonesia  tentunya di tunjang juga dengan bahan bahan yang harus bagus dan  berkualitas agar kerajianan songket bisa lebih di kenal bukan di kalangan dalam negeri saja tapi juga kebeberapa  ke panca negara, di sini benang candimas dari PT. Laksana Kurnia Mandiri Sejati bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas bahan tenun songket karena  benang candimas terbuat dari serat Tencel yaitu serat organic dari pohon eucalyptus yang berasal dari hutan bersertifikat dan proses produksinya ramah lingkungan , kilau dan nyaman di pakai seperti sutra, benang ini dapat menyerap warna baik alami maupun sintetis , benang ini merupakan unggulan dari PT. Lakumas untuk Mendukung kerajinan textile dan tenun tradisional untuk saat ini.

Hitam Putih Warna pada Industri Tekstil

Kalau membicarakan tekstil pasti akan membicarakan pemilihan warna sebagai bagian dari desain dan proses produksi. Proses pewarnaan dalam bentuk pewarnaan benang atau kain merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari industri tekstil. Akan tetapi, proses pewarnaan yang tidak bertanggung jawab seringkali menghasilkan limbah yang merugikan lingkungan.

Hal ini selalu menjadi dilema bagi pemerintah dan pengusaha. Industri tekstil merupakan industri yang menghidupi ribuan pekerja dan menyediakan kebutuhan pokok jutaan masyarakat. Bagi pabrik yang telah memiliki fasilitas pengelolaan limbah cair (IPAL), mungkin hal ini tidak akan menjadi masalah. Namun kebanyakan pelaku usaha tekstil pada level IKM tidak memiliki kemewahan seperti itu, seperti misalnya pengrajin tenun. Pengrajin masih harus mengolah benang tenun dengan metode pewarnaan konvensinal yang memakan waktu lama dan hasil yang tidak konsisten.

Benang Crayon Benang TenunSalah satu alternatif yang ditawarkan LAKUMAS adalah penggunaan benang CRAYON sebagai benang tenun untuk IKM sarung tenun goyor, yakni sarung tenun ikat yang diproses melalui alat tenun bukan mesin (ATBM). Lewat bahan baku serat warna yang diproduksi perusahaan berstandar internasional dan dipintal di salah satu unit pemintalan LAKUMAS, benang Rayon warna bermerk benang CRAYON dipastikan tidak menghasilkan limbah cair selama proses produksi dengan kekuatan warna lebih baik daripada benang hasil pencelupan.

Tentunya hal ini selain ramah lingkungan, menguntungkan bagi pengguna benang CRAYON karena menghemat waktu dan ongkos produksi. Benang CRAYON diharapkan menjadi solusi terbaik sebagai benang tenun untuk IKM dan pengrajin tenun tradisional.

Mengenal Songket Palembang

Songket adalah jenis kain tenunan tradisional rumpun Melayu di Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Kain songket ditenun dengan tangan menggunakan benang emas atau perak. Benang logam metalik yang ditenun berlatar benang sutra atau benang Candimas menimbulkan efek kemilau yang terlihat mewah sehingga cocok dikenakan pada acara-acara resmi.

Menurut hikayat rakyat Palembang, asal mula kain songket adalah dari hasil akulturasi budaya lewat perdagangan antara Tiongkok dan India. Benang sutera dari Tiongkok ditenun dengan motif patola dari India menjadi sebuah adiwastra.

Songket dari benang tenun warna alam

Contoh Songket (Palembang) dari Warna Alam

Saat ini benang Candimas produksi Lakumas sebagai salah satu contoh benang tenun sudah digunakan beberapa pengrajin tenun songket Palembang yang berlokasi di daerah Indralaya, Ogan Ilir, 22 km dari kota Palembang. Benang tenun dari serat Eucalyptus dicelup dengan pewarna alam untuk kemudian ditenun menjadi songket warna alam. Selain berkilau dan menyerap warna alam, kain songket warna alam yang terbuat dari benang Candimas nyaman digunakan karena terbuat dari bahan organik.