Hi, How Can We Help You?

Tag Archives: #BenangTenun

Harapan Lakumas di Tahun 2022, ini Dia

Harapan menjadi salah satuhal yang harus dimiliki oleh perusahaan. PT Lakumas juga demikian, PT Lakumas didirikan di awal tahun 1997 serta disponsori oleh PT. Laksana Kurnia Sejati. Pada awal berdirinya perusahaan tahun 1971, di masa tersebut, PT Lakumas masih berbentuk home industry dengan nama fibertex, perusahaan ini merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang sudah memproduksi benang warna.

Dari masa kemasa, usaha yang dimiliki mengalami perkembangan bahkan kemajuan yang sangat pesat sehingga di tahun 1985 merupakan tahun ekspansi serta perubahan status, dari awalnya home industry menjadi PT Laksana Kurnia Sejati. PT Lakumas berdiri disebabkan karen aadanya permintaan pasar yang terus menerus mengalami kenaikan. Hingga akhirnya home industry dirasa tidak cukup lagi memenuhi kebutuhan permintaan yang ada.

Visi Misi Lakumas, Harapan untuk Tahun Depan

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, setiap bukan hanya individu, setiap perusahaan tentu saja memiliki visi dan misi hingga harapannya sendiri. Berikut harapan dari PT Lakumas tahun 2022, antara lain:

  1. Dapat semakin meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar

PT Lakumas pada awalnya berdiri untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Indonesia. Secara tidak langsung, harapan PT Lakumas di tahun depan adalah agar bisa semakin mensejahterakan masyarakat yang berada di sekitar PT Lakumas. Perlu diketahui, PT Lakumas bukan hanya menggunakan bahan baku sintetis atau buatan, namun PT Lakumas juga menggunakan serat ramie yang diperoleh dari petani sehingga kesejahteraan yang dimiliki petani juga akan semakin meningkat.

  1. Memberikan lapangan kerja yang lebih banyak untuk masyarakat sekitar

PT Lakumas juga memiliki resolusi agar di tahun depan dapat memberikan lapangan kerja yang lebih banyak untuk masyarakat sekitar dan dapat mengurangi pengangguran. Lebih-lebih hingga sekarang, PT Lakumas juga selalu berusaha untuk terus mensejahterakan karyawan yang mereka miliki.

Contohnya PT Lakumas memberikan fasilitas untuk karyawan seperti tempat ibadah, uang makan, pakaian seragam kerja 2 stel pertahunnya, sarana kesehatan seperti perawatan kesehatan dan pengobatan. Bahkan, sarana transportasi yang digunakan untuk antar jemput karyawan, khususnya bagi karyawan yang masuk di malam hari. Bila terjadi kecelakaan kerja, serta terdapat korban, PT Lakumas bahkan memberikan tunjangan ganti rugi pada mereka yang bersangkutan.

Pekerja yang bekerja lebih dari 7 jam sehar iatau 40 jam seminggu dihitung lembur, kemudian pekerja juga berhak memiliki istirahat tahunan atau cuti. Seluruh fasilitas tersebut tentu saja diberikan untuk mensejahterakan karyawan PT Lakumas.

  1. Memberikan penghematan untuk konsumen

Visi misi Lakumas juga menyangkut dapat memberikan penghematan biaya untuk konsumen, karena konsumen tidak perlu lagi jauh-jauh ketika ingin membeli benang sintetis atau benang buatan. Konsumen bisa melakukan pemesanan sesuai dengan yang mereka butuhkan, dan PT Lakumas akan berusaha untuk terus mencukupi kebutuhan tersebut.

  1. Meningkatkan hasil produksi

Harapan Lakumas di tahun 2022 yang tidak kalah penting adalah dapat meningkatkan hasil produksi, sehingga nantinya kebutuhan pasar akan terpenuhi. Meskipun ingin meningkatkan hasil produksi sebesar mungkin, perusahaan juga tetap memperhatikan standard. Standard hasil produksi yang digunakan oleh PT Lakumas adalah standard internasional, bahkan agar dapat menjaga hasil produksi tetap baik, seluruh karyawan harus mentaati  semua prosedur dan peraturan yang ada.

Ketika tahun baru menyongsong, tentu saja harapan baru juga akan terus mewarnainya, demikian juga untuk perusahaan. Setiap perusahaan pasti memiliki resolusi yang baik untuk bisnis yang dikelola.

INAUGURAL TENUN FASHION WEEK CULMINATES IN CELEBRATORY FASHION SHOWCASE

Kuching, 3 December 2021 – The Sarawak Minister of Tourism, Arts and Culture; Yang Berhormat Dato Sri Haji Abdul Karim Rahman Hamzah; today officiated a gala dinner, featuring a unique runway fashion showcase at the Borneo Convention Centre Kuching. The event presented fashion collections using handwoven material produced by weaving communities across Southeast Asia, using traditional handlooms and employing techniques handed down from generation to generation.

The event marked the culmination of the inaugural TENUN Fashion Week, which was presented virtually from 15 to 17 October, and saw the participation of 45 weaving communities across countries in Southeast Asia, namely Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Philippines, Thailand and Vietnam.

Dedicated completely to these handweaves while reimagining their continued relevance by exploring their use in modern fashion, the TENUN Fashion Week was organised by the Maybank Foundation, through its Maybank Women Eco-Weavers programme, in collaboration with the ASEAN Handicraft Promotion and Development Association (AHPADA); and Tanoti – a Malaysian social enterprise dedicated to heritage craft preservation, women empowerment and rural community-building.

 

A fashion showcase quite unlike any other

In Southeast Asia, where textile weaving is traditionally taken up by women, hundreds of weaving communities make up a virtually untold but vital part of the region’s traditional fashion, culture and shared heritage. With humble hands, these women meticulously produce intricate fabrics – from exquisite material produced for royal courts to vivid cloths encompassing a tremendous range of imagery, demonstrating considerable technical prowess. Although these beautiful works of art continue to stand the test of time, the women who create them find it hard to survive in modern times.

As such, the TENUN Fashion Week and ensuing live gala fashion showcase truly stands out from other typical fashion events, in that it emphasises a particular focus on the creation of handwoven textiles in Southeast Asia, while shining a large spotlight on the participating communities that produce them, along with their unique stories.

In many ways, the unprecedented nature of the TENUN Fashion Week and live gala fashion showcase not only marked the first-ever coming together of these weaving communities, but also the visual representation of their unique works and stories. This unprecedented endeavour was symbolically manifested at the live fashion gala event, in the form of the “Weaver’s Anthem”, a distinctively special musical performance produced using weaving instruments.

“While Malaysia’s unique cultural legacy truly stands out and is celebrated all across the world, I believe we can play a unique role in championing our shared heritage with other countries, especially within Southeast Asia. In this regard, I would like to congratulate the organisers of the TENUN Fashion Week and this fashion show for presenting what I truly believe will be a catalyst towards the furtherance of the regional weaving industry,” said Dato Sri Haji Abdul Karim at the live gala fashion showcase.

During the evening’s programme, three participating weaving communities were announced as award winners for their winning collection of textiles which were showcased in the TENUN Fashion Week.

These were Tohsang Cotton Village from Thailand who were awarded the TENUN Best Collection Award and Rumah Rakuji, together with the weaving community of Tunas Mekar Batubura from Indonesia, who won the Lakumas Most Innovative Weaves Award. Both these awards were judged by a prestigious panel of adjudicators, including Rocco Gaglioti, founder of International Digital Fashion Week; Marianna Miceli, founder of Mad Mood Milano Fashion Week; and Aidarkhan Kaliyev, founder of Aspara Fashion Week.

The Bengkalis Community of the Peatland and Mangrove Restoration Agency (BRGM), Indonesia was awarded a People’s Choice Award determined by public votes based on their choice of the best collection among those featured over the course of the TENUN Fashion Week.

The winners in all three categories each received cash prizes and six kilograms of Candimas Tencel yarn, sponsored by PT Lakumas, who also sponsored the cash prize for the Most Innovative Weaves Award.

 

Setting the stage

“We set out to organise the TENUN Fashion Week, chiefly to create awareness towards the unique handweaves of Southeast Asia by bringing them out into the open, thus improving their marketability and subsequently, their profitability. Seeing this inaugural event reach the scale and magnitude that it has is truly rewarding, particularly for the participating weaving communities. But it also shows the promising potential of the TENUN platform,” said Jacqueline Fong, Co-organiser of TENUN Fashion Week and Director of Tanoti.

Already, plans are underway to make TENUN annual event.  Undeniably, the stage is set for what has become an instrumental platform in presenting Asian handweaves to the world.

“I think it was a very unique experience in that everyone that participated were very excited to be in this project. Many of these communities had never previously participated in any fashion showcase outside their own countries! The other notable experience was the learning of their stories, their textile traditions and ancestral weaving techniques, and conveying them to TENUN’s audience,” added Fong.

All the collections showcased by TENUN are available for purchase via its e-commerce platform on the TENUN website, which will also feature promotional videos and contact listings of the participating communities.

More details are available at www.tenunfashionweek.com.

Mengenal Seragam TNI yang Dibuat dari Kain Semi Woll

Seragam TNI terkenal dengan corak loreng uniknya yang memperlihatkan kegagahan dari setiap prajurit. Hal ini juga sangat penting karena pada dasarnya seragam merupakan identitas kebanggaan.

Di TNI sendiri ada 3 divisi, yaitu AD, AL, dan AU. Ketiganya memiliki peran penting masing-masing dalam menjaga kedaulatan negara. Ketiganya juga memiliki seragam yang berbeda-beda.

Jika dilihat lebih jauh, seragam yang digunakan oleh prajurit TNI tidak dibuat dari bahan sembarangan. Ada benang khusus untuk membuat kain. Kemudian dijadikan sebagai seragam untuk masa dinas.

Seragam TNI yang Biasanya Digunakan

Faktanya, setiap divisi memiliki corak dan motif seragamnya masing-masing. Hal ini juga berkaitan dengan visi misi serta tugas dari setiap divisi. Untuk lebih lanjut, berikut perbedaannya.

  1. AD

Angkatan Darat atau AD jadi divisi paling populer karena memiliki motif familiar. Motif loreng dengan beberapa paduan warna. Paduan warna ini menjadikan setiap prajurit terlihat lebih gagah.

Dalam pakaian tersebut, ada beberapa bedge pangkat yang menandakan status dari setiap prajurit. Misalnya, di bagian bahu terdapat simbol pangkat untuk menunjukkan status dan jabatan dari prajurit tersebut.

  1. AL

Di sisi lain, Angkatan Laut memiliki beberapa pakaian berbeda untuk setiap acara. Misalnya, pakaian untuk olahraga, upacara, hingga pakaian penerbang. Jadi, ada cukup banyak jenisnya bagi prajurit AL.

Bahkan, ada juga seragam khusus untuk hamil. Meskipun terlihat ketat, tapi pakaian ini terbuat dari bahan khusus. Jadi tidak akan membuat penggunanya merasa tidak nyaman.

  1. AU

Untuk seragam dari Angkatan Udara memiliki warna khas biru loreng. Hal ini juga melambangkan tugasnya untuk menjaga wilayah Indonesia dari udara. Identik dengan langit biru sebagai simbol kebebasan.

Sama dengan divisi lain, AU juga memiliki beberapa pakaian dinas. Sebut saja ada PDL, pakaian drumband, hingga untuk penerbangan. Semuanya disesuaikan berdasarkan fungsi dan kebutuhannya masing-masing.

Jenis Baret TNI yang Ada di Seragam

Seragam tidak akan lengkap jika tanpa adanya baret. Ini merupakan sebuah topi berwarna yang melambangkan setiap satuan divisi. Dalam setiap divisi juga ada beberapa pasukan khusus dengan warna baret beda-beda.

Misalnya, Kostrad atau Komando Cadangan Strategi AD memiliki warna baret hijau. Kopassus atau Komando Pasukan Khusus memiliki baret warna merah. Penerbang AD juga memiliki warna baret merah.

Setiap warna baret TNI juga diberikan sebuah lencana khusus. Misalnya, Kostrad dengan lancana Cakra Sapta Agni, Kopasus memiliki lambang Tribuana Chandraca Satya Dharma, atau pasukan Infanteri melalui lancana Yudha Wastu Pramuka.

Setiap lancana pada baret memiliki makna masing-masing sebagai simbol semangat. Bukan hanya di AD, tapi juga berlaku bagi AU atau AL. Semuanya memiliki lancananya masing-masing.

Bahan yang Sering Dipakai Membuat Seragam

Karena seragam yang digunakan TNI adalah pakaian khusus, maka bahan bakunya juga tidak sembarangan. Tidak semua kain dapat digunakan untuk membuat PDL. Berikut beberapa kain paling sering dipakai.

  1. Twist Drill

Kain Drill memiliki sifat dan karakter water repellent. Artinya ketika terkena air maka tidak akan mudah menembus ke dalam. Sangat cocok untuk dipakai pada kegiatan luar ruangan.

  1. American Drill

Dibuat dari katun dan polyester, American Drill memiliki serta lebih kecil jika dibandingkan dengan Japan Drill. Memiliki karakteristik halus dan dingin ketika digunakan dalam beberapa kondisi

  1. Ripstop

Ada juga kain Ripstop dengan tekstur kotak-kotak. Dibuat dari hasil penenunan nilon dan diperkuat dengan selingan benang. Karena dibuat dengan teknik khusus, maka karakteristiknya juga cukup kuat.

Perusahaan Lakumas juga memproduksi benang yang digunakan untuk membuat seragam untuk TNI. Seragam ini banyak dibuat oleh bahan drill dan kain semiwoll yang mana jenis benangnya diproduksi oleh PT Lakumas, diantaranya Teteron Cotton.

Pakaian dina TNI memegang peranan penting sebagai simbol dan status dari prajurit. Untuk itu, seragam ini harus dibuat dari bahan berkualitas, misalnya kain semi woll atau kain drill.

Selain Sutera, Ini Bahan Baku Tenun yang Banyak Dipakai

Saat ini, banyak kain tenun dibuat dari serat alami maupun serat sintetis. Seperti yang sudah diketahui, kain tenun jadi salah satu komoditas tekstil paling dicari. Nilai dan keistimewaannya sangat tinggi. Ada banyak sekali jenis tenun yang sangat terkenal hingga luar negeri. Tenun Sumba, Bali dan Toraja memiliki nilai tertinggi karena karakter istimewanya. Ketiganya memiliki corak khas yang melambangkan keharmonisan. Bukan hanya coraknya saja, tapi juga benang yang digunakan tidak sembarangan. Umumnya, mereka menggunakan serat dari alam seperti serat selulosa. Namun, sebenarnya masih banyak lagi jenis benang yang sering dipakai. Benang yang Sering Dipakai atau Digunakan Faktanya, sampai saat ini ada banyak sekali jenis benang maupun kain. Beberapa diantaranya merupakan bahan semi-sintetis dari gabungan 2 jenis benang. Berikut beberapa jenis kain yang sering dipakai. 1.	Katun Cotton sebenarnya merupakan kain yang cukup banyak dijumpai. Selain itu, cotton juga memiliki banyak varian lain mulai dari jenis biasa, combed, dan sebagainya. Setiap jenis tentu memiliki perbedaan masing-masing. Misalnya adalah cotton combed yang merupakan jenis cotton biasa, tapi ada penyisiran pada bagian akhir. Hasilnya, serat-serat kapas pada permukaan dapat dihilangkan serta menjadikan cotton combed jadi lebih halus. Ada juga japanese cotton yang merupakan 100% dari bahan organik sekitar. Karena menggunakan bahan organik, teksturnya juga jauh lebih halus. Bahkan, tingkat penyerapan keringat juga sangat baik. Ada juga jenis toyobo dengan karakter tebal serta lebih glossy. Meski lebih tebal, tapi ketika digunakan tidak mudah gerah. Hal ini juga yang membuatnya banyak dipakai untuk membuat tenun. 2.	Rayon Secara teknis, ini merupakan benang yang terbuat dari serat kayu atau serat selulosa. Namun, dengan adanya kombinasi menggunakan bahan lain membuatnya memiliki banyak jenis mulai dari spandex hingga jersey. Spandex sendiri umumnya memilki karakteristik warna cerah dan mampu lekuk badan. Di sisi lain, tekstur permukaannya cukup lembut dan lentur. Biasanya juga sering dipakai untuk membuat tenun khas. Ada juga jenis yang cocok untuk membuat jersey. Dari sisi karakteristik, jersey memiliki sifat melar dan mengkilap. Permukaannya sangat lembut meskipun daya serapnya sangat rendah. Kombinasi lain adalah yang menghasilkan PE. Tekstur luarnya cukup kasar sehingga mudah untuk robek. Selain itu, ketika digunakan juga terasa cukup panas sehingga jarang dipakai untuk membuat tenun. 3.	Tencel Sama seperti bahan kain lainnya, jenis satu ini juga memiliki beberapa varian. Umumnya, banyak industri tekstil juga mengkombinasikannya dengan bahan lain. Jadi, varian dari kain untuk tenun jauh lebih banyak. Misalnya, jenis lyocell memiliki karakteristik yang nyaman dan lembut. Daya serapnya juga sangat baik sehingga banyak digunakan. Lyocell juga sering dipakai untuk membuat tenun khas. Ada juga jenis tencel-modal yang juga memiliki permukaan lembut dan nyaman. Bahkan, ini lebih lentur dari pada lyocell. Baik lyocell maupun modal merupakan olahan dari pelarutan serat selulosa. 4.	Acrylic Akrilik banyak dikenal juga dengan nama cashmillon, vannel, hingga orlon. Meski penyebutannya berbeda, tapi karakteristiknya sama. Akrilik memiliki kemiripan dengan kain wol dan membuatnya sering digunakan sebagai syal. Karakteristik tersebut membuatnya banyak dipakai untuk membuat kain tenun. Banyak daerah lebih memiliki akrilik karena lebih baik dari sisi kualitas. Terutama karena lebih tebal dan hangat. Namun, akrilik justru jarang digunakan untuk tenun biasa. Jika tenun tersebut diproduksi secara massal dan untuk diperjualbelikan, biasanya menggunakan kain yang lebih ringan dari pada akrilik. Memang, tenun dapat dibuat menggunakan banyak jenis benang. Namun, tidak semua benang mampu menghasilkan tenun berkualitas. Serat alami biasanya lebih dipilih karena kualitasnya lebih terjamin.

Saat ini, banyak kain tenun dibuat dari serat alami maupun serat sintetis. Seperti yang sudah diketahui, kain tenun jadi salah satu komoditas tekstil paling dicari. Nilai dan keistimewaannya sangat tinggi.

Ada banyak sekali jenis tenun yang sangat terkenal hingga luar negeri. Tenun Sumba, Bali dan Toraja memiliki nilai tertinggi karena karakter istimewanya. Ketiganya memiliki corak khas yang melambangkan keharmonisan.

Bukan hanya coraknya saja, tapi juga benang yang digunakan tidak sembarangan. Umumnya, mereka menggunakan serat dari alam seperti serat selulosa. Namun, sebenarnya masih banyak lagi jenis benang yang sering dipakai.

Benang yang Sering Dipakai atau Digunakan

Faktanya, sampai saat ini ada banyak sekali jenis benang maupun kain. Beberapa diantaranya merupakan bahan semi-sintetis dari gabungan 2 jenis benang. Berikut beberapa jenis kain yang sering dipakai.

  1. Katun

Cotton sebenarnya merupakan kain yang cukup banyak dijumpai. Selain itu, cotton juga memiliki banyak varian lain mulai dari jenis biasa, combed, dan sebagainya. Setiap jenis tentu memiliki perbedaan masing-masing.

Misalnya adalah cotton combed yang merupakan jenis cotton biasa, tapi ada penyisiran pada bagian akhir. Hasilnya, serat-serat kapas pada permukaan dapat dihilangkan serta menjadikan cotton combed jadi lebih halus.

Ada juga japanese cotton yang merupakan 100% dari bahan organik sekitar. Karena menggunakan bahan organik, teksturnya juga jauh lebih halus. Bahkan, tingkat penyerapan keringat juga sangat baik.

Ada juga jenis toyobo dengan karakter tebal serta lebih glossy. Meski lebih tebal, tapi ketika digunakan tidak mudah gerah. Hal ini juga yang membuatnya banyak dipakai untuk membuat tenun.

  1. Rayon

Secara teknis, ini merupakan benang yang terbuat dari serat kayu atau serat selulosa. Namun, dengan adanya kombinasi menggunakan bahan lain membuatnya memiliki banyak jenis mulai dari spandex hingga jersey.

Spandex sendiri umumnya memilki karakteristik warna cerah dan mampu lekuk badan. Di sisi lain, tekstur permukaannya cukup lembut dan lentur. Biasanya juga sering dipakai untuk membuat tenun khas.

Ada juga jenis yang cocok untuk membuat jersey. Dari sisi karakteristik, jersey memiliki sifat melar dan mengkilap. Permukaannya sangat lembut meskipun daya serapnya sangat rendah.

Kombinasi lain adalah yang menghasilkan PE. Tekstur luarnya cukup kasar sehingga mudah untuk robek. Selain itu, ketika digunakan juga terasa cukup panas sehingga jarang dipakai untuk membuat tenun.

  1. Tencel

Sama seperti bahan kain lainnya, jenis satu ini juga memiliki beberapa varian. Umumnya, banyak industri tekstil juga mengkombinasikannya dengan bahan lain. Jadi, varian dari kain untuk tenun jauh lebih banyak.

Misalnya, jenis lyocell memiliki karakteristik yang nyaman dan lembut. Daya serapnya juga sangat baik sehingga banyak digunakan. Lyocell juga sering dipakai untuk membuat tenun khas.

Ada juga jenis tencel-modal yang juga memiliki permukaan lembut dan nyaman. Bahkan, ini lebih lentur dari pada lyocell. Baik lyocell maupun modal merupakan olahan dari pelarutan serat selulosa.

  1. Acrylic

Akrilik banyak dikenal juga dengan nama cashmillon, vannel, hingga orlon. Meski penyebutannya berbeda, tapi karakteristiknya sama. Akrilik memiliki kemiripan dengan kain wol dan membuatnya sering digunakan sebagai syal.

Karakteristik tersebut membuatnya banyak dipakai untuk membuat kain tenun. Banyak daerah lebih memiliki akrilik karena lebih baik dari sisi kualitas. Terutama karena lebih tebal dan hangat.

Namun, akrilik justru jarang digunakan untuk tenun biasa. Jika tenun tersebut diproduksi secara massal dan untuk diperjualbelikan, biasanya menggunakan kain yang lebih ringan dari pada akrilik.

Memang, tenun dapat dibuat menggunakan banyak jenis benang. Namun, tidak semua benang mampu menghasilkan tenun berkualitas. Serat alami biasanya lebih dipilih karena kualitasnya lebih terjamin.

7 Tenun Tradisional Terbaik yang Ada di Indonesia

Kain tenun dari Indonesia terkenal dengan kelembutannya karena terbuat dari bahan semi alami.

Kain tenun dari Indonesia terkenal dengan kelembutannya karena terbuat dari bahan semi alami. Beberapa kain bahkan terkenal hingga mancanegara, misalnya kain dari Sumba yang sangat terkenal.

Di Indonesia sendiri, ada banyak sekali daerah penghasil tenun berkualitas. Daerah timur Indonesia dianggap sebagai surga kain tenun. Hal tersebut karena ada banyak sekali kain khas dengan ciri kelokalannya.

Dengan karakteristiknya masing-masing, akhirnya muncul banyak sekali jenis tentu. Beberapa kemudian dikombinasikan untuk membuat fashion lebih stylish. Penasaran dengan jenis-jenis kain tenun yang paling populer di Indonesia?

7 Tenun Tradisional Paling Populer

Ada banyak sekali jenis tenun yang berkembang dari hasil karakter lokal suatu daerah. Beberapa diantaranya kemudian dijadikan sebagai tenun ikat kepala. Namun, jenis kain tenun apa saja yang paling terkenal?

  1. Ulos

Ulos merupakan buatan khas dari Suku Batak yang ada di Sumatera Utara. Salah satu yang membuatnya sangat populer adalah corak warna cerahnya. Selain itu, ada ragam corak warna emas juga.

Coraknya didominasi oleh garis-garis horisontal dengan warna lebih cerah. Ini menujukan simbol tertentu dalam kebiasaan masyarakat Batak. Terutama nilai kebudayaan mereka yang telah lama ada di Sumatera.

  1. Gringsing

Berasal dari Tabanan, Bali, tenun Gringsing adalah satu-satunya yang menggunakan teknik tenun ikat ganda. Menariknya, untuk selembar tenun saja bisa membutuhkan waktu 2 hingga 3 tahun.

Lamanya pembuatan juga berpengaruh terhadap daya tahan tenun Gringsing. Bahkan, beberapa masyarakat adat memiliki kain berusia ratusan tahun. Warna dan coraknya juga tidak berubah sama sekali.

  1. Sumba

Rasanya, hampir tidak ada orang yang tidak mengenal jenis tenun satu ini. Kain buatan kaum perempuan Sumba telah terkenal hingga mancanegara. Bahkan, beberapa orang rela membayar mahal untuk mendapatkannya.

Kain ini sendiri dibuat menggunakan sehelai benang kemudian mulai menghiasnya. Corak kain memiliki kesan harmonis karena mengambil simbol alam. Beberapa orang menggunakan bahan serat alami sebagai bahan utamanya.

  1. Lurik

Kain ini sangat mudah dijumpai di berbagai daerah Jawa, terutama daerah Jawa Tengan, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Ciri khasnya adalah corak garis-garis secara horisontal berwarna cerah.

Menariknya, setiap daerah memiliki corak masing-masing pada kain lurik. Hal tersebut berkaitan dengan budaya dari setiap daerah. Misalnya kain lurik asal Solo yang memiliki corak khas keraton.

  1. Toraja

Selain Sumba, Toraja juga terkenal dengan tenun khas miliknya. Corak yang digunakan melambangkan keharmonisan antara manusia dan alam. Ini juga merupakan salah satu warisan dari leluhur masyarakat Toraja.

Karena coraknya tersebut, tenun Toraja memiliki status tinggi dalam masyarakat adat Toraja. Biasanya, kain ini dipakai untuk acara sakral seperti upacara keagamaan, serta memegang simbol kejayaan.

  1. Soket Jambi

Dari sisi corak, Soket Jambi memiliki corak lebih bervariasi. Ada corak kotak-kotak, bunga, cakra, hingga simbol geometris lain. selain itu, Soket Jambi cenderung menggunakan warna cerah.

Setiap warna dan motif memiliki maknanya sendiri-sendiri. hal ini juga jadi salah satu kebanggan dari status masyarakat Jambi. Tidak heran jika Soket Jambi mampu dikenal hingga mancanegara.

  1. Songket

Songket dibuat menggunakan dua jenis benang yang lajurnya dibuat secara vertikal serta horisontal. Selain itu, songket menggunakan teknik tambahan berupa penyukitan untuk mengayam benang ke jalur lain.

Songket sangat terkenal melalui detail motifnya. Pengerjaan secara manual dipandang sebagai kain tenun kelas utama. Hal tersebut karena memiliki nilai dan kesan yang sangat tinggi.

Di Indonesia, Perusahaan Lakumas juga memproduksi benang berbahan rayon dan benang bahan tencel yang sering dipakai oleh pengrajin tenun baik yang ada di Pulau Jawa maupun Pulau Bali.

Memang, hampir setiap daerah memiliki kain miliknya sendiri. Beberapa menggunakan benang alami dan sebagian menggunakan benang sintetis. Misalnya benang rayon dan benang tencel sebagai bahan utama.