Hi, How Can We Help You?

Category Archives: Business

Presiden Joko Widodo Apresiasi Produk Lakumas

SOLO – PT Laksana Kurnia Mandiri Sejati (Lakumas) ikut memeriahkan puncak acara Hari Batik Nasional yang diselenggarakan di Pura Mangkunegaran, Solo, Rabu (2/10). Produk Lakumas yang dipamerkan di Booth Lenzing x Lakumas mendapat apresiasi dari Presiden Joko Widodo dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang datang berkunjung.

“Bagus, bagus,” kata Presiden saat berkunjung ke Booth Lenzing x Lakumas.

Menteri Perindustrian 2019 Airlangga Hartato dan Keluarga memuji produk lakumas
TERIMA KUNJUNGAN – Direktur PT Lakumas Erick Halim (kanan) menerima kunjungan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Booth Lenzing x Lakumas.

Kepada Presiden dan Menteri Perindustrian, Direktur PT Lakumas Erick Halim menunjukkan sarung goyor Tegal yang bahan bakunya dari serat sampai menjadi kain diproduksi di Indonesia. Menteri Perindustrian Airlangga Hartato juga memberikan apresiasi terhadap produk ekspor dengan produksi serat, benang, sampai menjadi kain ATBM di dalam negeri.

Booth Lenzing x Lakumas juga sebelumnya dikunjungi Dirjen Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih.

Dikunjungan Dirjen IKMA, Erick menunjukan kain batik dari Pasuruan yang menggunakan serat terbarukan yang diproduksi Lenzing dan dipintal PT Lakumas di Tegal.

Untuk acara kali ini, Lakumas sebagai bagian dari Industri Pemintalan Benang bersama KaIND menampilkan selendang dengan campuran sutra. “Yakni, kombinasi sutra alami yang dibudidaya petani di Jawa Timur dan serat organik yang menghasilkan kain bertekstur unik, serta menyerap warna sangat baik dalam proses pembatikan,” ungkap Erick. (nam/adv/adi)

 

Sumber : Radar Tegal|Jumat, 04 Oktober 2019|Hal 8

 

Mari bersama #IndonesiaMaju #majubersamalakumas #industripemintalanbenang

Bahan Baku Lokal untuk Karya Tenun Bali

Karya tenun Bali merupakan warisan leluhur yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat Bali. Tidak sedikit turis manca negara yang datang untuk mempelajari ataupun sekadar menikmati keindahan motif pada setiap kain tenun Bali. Karya tenun Bali sangat khas dan memiliki makna pada tiap helai benang yang menyusun sebuah cerita pada selembar kainnya.

Diskusi Hangat Mengenai Bahan Baku Benang – Dari Kiri ke Kanan: Bapak I Wayan Widyantara (Pelaku Usaha Tenun di Bali); Bapak I Gede Wayan Suamba (Kabid Perindustrian Disperindag Prov. Bali) Bapak Erick Halim (Direktur Lakumas)

Sangat disayangkan, benang yang merupakan bahan baku kain tenun seringkali sulit diperoleh para penenun di Bali akibat dari harga yang tidak menentu dan ketergantungan pada impor. Benang katun dan sutra yang banyak diimpor dari India dan Tiongkok seringkali menjadi langka di pasar. Pada akhirnya, harga benang di pasar akan melonjak cukup tinggi, tak terbeli oleh para pengrajin atau memaksa mereka menaikkan harga kain tenunnya.
Lakumas, atau PT Laksana Kurnia Mandiri Sejati, sudah lama memberi solusi masalah serupa yang dialami oleh banyak pengrajin tenun yang tersebar di Indonesia, yaitu bahan baku. Karena itu, direktur Lakumas, Erick Halim, menyambut baik undangan dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Pemprov Bali untuk bertemu dan berdiskusi dengan para pengrajin dalam sebuah sesi Focus Group Discussion (FGD) di Bali pada 6 September 2019 lalu.
“Lakumas ingin hadir dan membantu para pengrajin tenun sebagai produsen benang lokal yang dapat memberikan supply benang yang sustainable dengan harga yang stabil,” ujar Erick Halim saat memperkenalkan Lakumas dan khususnya benang merek Candimas. 

Diskusi dari Pemaparan Bapak Erick Halim (Lakumas)

Benang merek Candimas yang terbuat dari bahan baku Tencel milik Lakumas merupakan solusi akan kebutuhan bahan baku berkualitas dan ramah lingkungan. Supply benang yang stabil dengan harga terjangkau dijamin oleh kemampuan produksi yang baik oleh pabrik Lakumas di Tegal. Selain memiliki visual yang berkilau dan menyerupai sutra, benang Candimas juga mampu mempersingkat proses perwarnaan karena memiliki daya serap zat warna yang sangat kuat baik untuk pewarna kimia maupun alam. Kain yang menggunakan benang Candimas memiliki sentuhan lembut dan dingin.
“Memang benang Tencel dari pak Erick ini merupakan langkah dari pemerintah daerah di Bali untuk mengatasi masalah bahan baku yang sering terjadi,” kata Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Pemrov Bali, I Gede Wayan Suamba.
Apresiasi tinggi kepada Pemprov Bali yang aktif mendorong kemajuan industri tenun di wilayahnya dengan langkah nyata mempertemukan para pelaku usaha tenun dengan produsen lokal yang berkomitmen pada sustainability. Momen berharga ini adalah hasil dari usaha Pemprov Bali mencari solusi bagi permasalahan yang sudah bertahun-tahun mengganggu kemajuan dunia tenun di Bali.

Foto Bersama Peserta dan Pembicara FGD.

Budaya dan adat dapat dibesarkan bersama dengan industri tenun yang mengangkat keunikan daerah. Perlu usaha yang tidak mudah untuk melakukannya namun terbukti masih banyak pihak yang peduli untuk mendorong maju industri tenun dengan ajakan untuk maju bersama mencapai tujuan. Lakumas sudah sejak awal bekerja dengan prinsip untuk mengajak semua mitra untuk maju bersama Lakumas demi berkembangnya industri tenun di Indonesia.

Benang Lakumas Menjalin Tenun Nusantara

JAKARTA – PT Laksana Kurnia Mandiri Sejati (Lakumas) berpartisipasi dalam World Ikat Textile Symposium (WITS) 2019 yang diadakan di Museum Tekstil Jakarta, 23-25 Agustus lalu. Dalam pameran internasional tersebut, Lakumas memperkenalkan benang bermerk Candimas yang telah digunakan perajin dari daerah Toba, Sumatra Utara, sampai ke Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Maestro Tenun Ikat Sumba Kornelis Ndapakamang, penenun ikat warna alam dari Sumba sudah menggunakan benang dari Lakumas.

“Kualitas benang Candimas cukup bagus karena penyerapan warna maksimal dan tidak ada campuran benang-benang yang lain,” kata Kornelis yang juga membantu pelatihan tenun di beberapa daerah NTT dengan pewarna alami

Perwakilan PT Lakumas Araneta Halim (dua dari kanan) bersama Ketua Dekranas dan Ketua Dekranas Daerah.

Direktur PT Lakumas Erick Halim mengatakan, selama tiga hari pergelaran pameran internasional tersebut, Lakumas menjual benang sebanyak 100 kilogram kepada perajin tenun ikat dari Sarawak, Kalimantan Timur, Sumba, sampai ke Flores.

“Dengan hadirnya Lakumas dalam industri tenun ikat nasional, diharapkan bisa menjamin pasokan bahan baku berkualitas dengan harga yang stabil karena terbuat di dalam negeri,” ujar Erick.

WITS 2019 sendiri dibuka langsung Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Mufidah Jusuf Kalla bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ketua Dekranas Daerah DKI Jakarta Fery Farhati, Jumat (23/8) pagi. Acara ini diselenggarakan World Crafts Council (WCC) bekerja sama dengan Dinas Pariwisata DKI Jakarta.

Mufidah menyampaikan, penyelenggaraan WITS tahun ini adalah penyelenggaraan yang keempat kalinya setelah sebelumnya diadakan di negara-negara lain se-perti Inggris. Mufidah menyebut kain tenun ikat tersebar di banyak negara dan menjadi kain tradisional yang diakui sebagai warisan budaya berharga termasuk di Indonesia.

Untuk itu, pameran yang diadakan dalam WITS ini juga sangat penting bagi para seniman dan perajin agar bisa mengembangkan kemampuan yang dimiliki. “Kita semua dapat saling belajar dan berbagi dalam pengembangan tenun ikat untuk pengembangan warna, corak, ragam, dan desain,” ungkap Mufidah kepada wartawan.

Serat Tencel Untuk Fashion Ramah Lingkungan

Menurunnya kualitas lingkungan menuntut masyarakat untuk menggunakan produk-produk ramah lingkungan, termasuk fashion. Industri tekstil pun dituntut untuk memproduksi benang dan kain ramah lingkungan dengan menggunakan serat alami. Serat tencel merupakan bahan baku yang ramah lingkungan karena terbuat dari serat kayu (Lyocell).

New Age Fibre For Sustainable Textile – Adiwastra Nusatara 2019

PT Lakumas (Laksana Kurnia Mandiri Sejari) adalah perusahaan tekstil yang memproduksi benang tencel (industri pemintalan benang). Lakumas memiliki pabrik di Tegal dan Bandung dengan kapasitas mencapai 400 metrik ton per bulannya. Erick Halim, Director PT Lakumas mengatakan, pihaknya menggunakan serat tencel karena ramah lingkungan, penyerapan airnya lebih bagus, dan hemat penggunaan air.

“Kita terjun langsung ke pengrajin, kita melihat kondisi mereka secara langsung, sebagian besar mereka untuk ekspor.  Tapi saya miris melihat kampung mereka, karena selokan mereka berwarana hitam, merah, biru,” tutur Erick yang ditemui usai diskusi ‘New Age Fiber for Sustainable Textile”, di Jakarta, Sabtu, 23 Maret 2019 lalu

Berita selengkapnya di https://marketing.co.id/serat-tencel-untuk-fashion-ramah-lingkungan/

KONTRIBUSI PT. LAKSANA KURNIA MANDIRI SEJATI (LAKUMAS) DI ADIWASTRA NUSANTARA 2019

Adiwastra Nusantara adalah pameran kain adati terbesar di Indonesia yang telah diselenggarakan setiap tahun sejak 2008 di Jakarta. Wastra artinya kain dan Adi berarti unggul atau terbaik, sehingga Adiwastra Nusantara berarti pameran kain-kain tradisional unggulan dari seluruh wilayah Indonesia.

Pameran ini digagas oleh komunitas pecinta dan pegiat promosi kain adati nusantara yang dimotori oleh Edith Ratna Soeryosoeyarso dan kawan-kawan. Tujuan dari pameran ini antara lain untuk terus mengobarkan semangat pelestarian serta pengembangan kain adati nusantara sebagai kekayaan bangsa yang beragam dan memiliki keindahan serta nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal yang tinggi.

PT. Laksana Kurnia Mandiri Sejati (Lakumas) mengikuti Adiwastra Nusantara ke-12 tahun 2019 ini yang diselenggarakan pada tanggal 20 – 24 Maret 2019, di Balai Sidang Jakarta (JCC), Hall A dan B, menempati area pameran seluas lebih kurang 12.000 m2. Lebih dari 400 peserta pameran UKM/ perajin wastra dari seluruh wilayah Indonesia akan menggelar aneka ragam produk wastra seperti batik, tenun ikat, songket dan sulam serta aneka produk fesyen berbasis wastra adati. Jumlah pengunjung Adiwastra Nusantara 2019 diperkirakan sekitar 40.000 orang dengan jumlah transaksi mencapai 45 – 50 milyar rupiah.

Adiwastra Nusantara didukung oleh berbagai kementerian dan lembaga terkait yang membina dan menaungi UKM perajin wastra serta pegiat ekonomi kreatif berbasis wastra, yaitu Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perdagangan, Kementerian BUMN, Badan Ekonomi Kreatif serta beberapa lembaga pemerintah dan swasta lainnya. PT. Laksana Kurnia Mandiri Sejati bersama dengan Lenzing dengan Fiber Tencelnya bekerja sama dengan pengrajin dan perancang busana ternama Merdy Sihombing mengisi acara talk show dengan tema “New Age Fiber”.

   

WASTRA ADATI GENERASI DIGITAL

Penyelenggaraan pameran Adiwastra Nusantara ke 12 tahun 2019 ini mengusung tema “Wastra Adati Generasi Digital”. Minat masyarakat terhadap kain adati terus meningkat dari tahun ke tahun. Tren ke arah nuansa etnik atau tradisi serta gaya hidup kembali ke alam yang banyak dianut para generasi muda, turut mendongkrak pemakaian kain adati di kalangan generasi muda. Citra kain adati kini tidak hanya monopoli generasi lansia semata, kaum milenial, generasi digital pun banyak menyukai kain tradisi, tidak hanya untuk peristiwa resmi tetapi juga untuk suasana kasual dan sehari-hari.
Para perancang busana dari kalangan generasi muda semakin banyak memunculkan ide-ide segar dan inovatif, sesuai karakter generasinya. Kecenderungan ini dengan cepat berkembang didukung oleh sistem pemasaran dan penjualan digital. Sebuah keniscayaan yang positif dan tak terelakkan. Inilah antara lain yang mendorong diusungnya tema tersebut di atas.

IKON ADIWASTRA NUSANTARA 2019

Dalam setiap penyelenggaraan pameran Adiwastra Nusantara, panitia selalu memilih dan menetapkan beberapa produk wastra yang diunggulkan untuk ditampilkan secara khusus sebagai ikon Adiwastra Nusantara. Ikon Adiwastra Nusantara 2019 terdiri dari :

1. Kain Dodotan Solo koleksi Batik Sriharta dan kolektor lainnya.

2. Batik Sudagaran Solo, koleksi Hartono Sumarsono

3. Kain Ulos kuno, koleksi Torang Sitorus

4. Kain Unggulan Palembang koleksi Darwina Ponco Sutowo

5. Pasar Batik Madura

6. Pesona Shibori, Museum Shibori Kyoto

PELUNCURAN DAN BEDAH BUKU “BATIK SUDAGARAN SOLO”

Pada tanggal 20 Maret pukul 14.00 akan diadakan peluncuran dan bedah buku ‘Batik Sudagaran Solo” karya Hartono Sumartono, seorang pengusaha batik dan kolektor batik serta kain-kain adati Nusantara. “Batik Sudagaran Solo” merupakan buku ke-5 yang membahas tentang koleksi batik Hartono Sumartono. Buku-bukunya yang lain adalah : “ Batik Pesisir Pusaka Indonesia, “Benang Raja”, “Batik Garutan” dan “Batik Betawi”.

LOMBA SELENDANG INDONESIA

Selendang Indonesia merupakan istilah generik bagi produk wastra yang dianggap bisa berfungsi ganda, sebagai kain yang berfungsi tradisional maupun menjadi pelengkap busana modern. Tahun 2019 merupakan tahun ke-2 penyelenggaraan Lomba Selendang Indonesia. Diikuti oleh puluhan perajin/ perancang batik, tenun dan jumputan dari seluruh Indonesia, memperebutkan piala khusus serta hadiah uang pembinaan bagi para pemenang lomba.

TALKSHOW, DEMO & WORKSHOP

1. Talkshow : IKM Tanggap Digital oleh Kementerian Perindustrian

2. Kosmetik Berbasis Budaya untuk Milenial dari Mustika Ratu

3. New Age Fiber dari PT Lakumas

4. Workshop Kriyawastra dari Dharma Pertiwi

5. Demo Upacara Minum Teh Jepang oleh Shoko Ochiai

 

Sumber Berita :

http://www.tribunnews.com/lifestyle/2019/03/15/edith-ratna-soeryosoeyarso-dan-kawan-kawan-kembali-gelar-adiwastra-nusantara-2019?page=all

https://epaper.kontan.co.id/news/604334/Serat-Tencel-untuk-Kain-Tradisional#

https://www.liputan6.com/lifestyle/read/3915906/adiwastra-nusantara-2019-sasar-generasi-milenial-apa-saja-acaranya