Bapak Erick Halim menyerahkan bantuan Benang kepada Penenun Kain bebali diwakili Pemerintah setempat
PT Lakumas diwakilkan Direktur Marketing, Bpk Erick Halim menyerahkan bantuan benang CANDIMAS kepada penenun kain bebali di Desa Sembiran, Kec Tejakula, Kab Buleleng dan disaksikan langsung oleh perangkat desa. Pemberian bantuan ini dalam rangka mendukung program pemprov Bali yang telah digelar sebelumnya yaitu Bimbingan Teknis (Bimtek) Diversifikasi dan Peningkatan Kualitas Tenun Ikat kepada pengerajin kain tenun ikat Desa Sembiran.
Dengan revitalisasi tenun di Desa Sembiran, diharapkan bisa membuka lapangan pekerjaan baru dengan produk kerajinan bernilai tinggi. Sejak pencanangan Bimtek Desa Sembiran, penenun mengakui sudah kebanjiran order namun terkendala bahan baku.
Benang CANDIMAS diharapkan bisa menjadi bahan baku utama terhadap kain bebali yang menggunakan pewarna alami sesuai dengan arahan Ketua Dekranasda Prov Bali, Ibu Putri Koster.
Bapak Erick Halim bersama dengan Pengusaha Tenun Bali dan Kabid Perindustrian Disdagperin Provinsi Bali
17 November 2019 – PT Lakumas menandatangani Memorandum of Understanding atau MoU dengan sejumlah pengusaha tenun Bali mengenai penyediaan bahan baku tenun dan disaksikan langsung oleh Kabid Perindustrian Disdagperin Prov Bali, Bapak Gede Suamba di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) pada tanggal 17 November 2019.
Pengusaha tenun Bali menyambut baik produk Lakumas terutama benang CANDIMAS yang diproduksi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah dikarenakan kualitas dan harga bersaing dengan benang impor yang saat ini mendominasi bahan baku pertenunan di Bali. Hal tersebut dikarenakan minimnya informasi dan kerja sama antara industri pemintalan benang lokal dengan produsen kain. Saat ini produk CANDIMAS sudah digunakan sebagai benang Songket dan Tenun Ikat khas Bali di beberapa pertenunan antara lain di Kab Klungkung, Gianyar, Jembrana, dan Kota Denpasar.
Diharapkan kehadiran PT Lakumas di Bali dapat menjadi solusi pengadaan bahan baku yang selama ini menjadi masalah pertenunan di Bali yang bergantung benang impor dari industri pemintalan benang luar negeri. Selain ketersediaan yang tidak stabil, harga benang impor yang berfluktuasi juga menjadi keluhan para pengrajin.
Dalam acara Pesona Tenun Dewata yang digelar pada malam harinya, benang CANDIMAS ditampilkan dalam produk fashion mengangkat Songket Jembrana.
Mari kita buat #indonesiamaju #majubersamalakumas #industripemintalanbenang
PERMAISURI Raja Malaysia, Permaisuri Agong Tunku Hajah Azizah Aminah Mainunah Iskandariah mengunjungi Pameran Kain Tradisional ASEAN di Pendapa Royal Ambarrukmo, Jogjakarta, Selasa (5/11). Dalam pameran tersebut, Permaisuri Raja Malaysia meminati benang made in Lebaksiu yang diperkenalkan PT Laksana Kurnia Mandiri Sejati (Lakumas).
Benang tersebut rencananya akan digunakan di institusi binaan Permaisuri Raja Malaysia. “Hari ini kami mendapat kehormatan dikunjungi Permaisuri Raja Malaysia Tunku Hajah Azizah. Kami memperkenalkan benang Lakumas untuk tenun tradisional. Beliau berminat menggunakan benang made in Lebaksiu dalam tenun Pahang yang dibina beliau,” kata Direktur PT Lakumas Erick Halim.
Pameran Kain Tradisional ASEAN tersebut berlangsung di sela-sela acara 7th ASEAN Traditional Textile Symposium 2019, dengan mengusung tema ‘Embracing Change, Honoring Tradition’. Ketua Panitia 7th ASEAN Traditional Textile Symposium 2019 GKR Hemas kepada media menyampaikan, Permaisuri Raja Malaysia memang menyukai kain batik.
Setelah melihat, biasanya motif batik itu akan diadopsi di Malaysia. Menurut Hemas, Permaisuri Raja Malaysia seringkali tertarik membuat kembali batik Nusantara di negaranya, mulai dari aspek desainnya. Meski demikian, Hemas menganggap hal itu tidak menjadi masalah, karena hasil akhir batik di Malaysia biasanya berwujud batik kontemporer.
Menurut Hemas, Pameran Kain Tradisional ASEAN sudah pernah dihelat di Indonesia pada 2004. Tahun ini, Indonesia kembali ditunjuk sebagai tuan rumah dalam rangkaian 7th ASEAN Traditional Textile Symposium 2019. Dalam pameran terdapat 41 tenan kain tradisional baik berjenis tenun maupun batik dari berbagai negara ASEAN.
Selain pameran kain tradisional, sejumlah agenda pendukung lainnya adalah kompetisi fotografi, serta kompetisi kerajinan wastra yang terdiri dari empat kategori, yaitu tas, dompet, aksesori, juga selendang dan sarung.
PASAR Batik 17 Agustus Pamekasan Madura Jawa Timur dikukuhkan sebagai pasar batik tulis tradisional terbesar di Indonesia oleh Dirjen Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian, Kamis (24/10). Pengukuhan dilakukan oleh Direktur Industri Kecil dan Menengah Kimia, Sandang, Kerajinan Dan Industri Aneka E Ratna Utarianingrum.
PENGUKUHAN – Pengukuhan pasar batik tulis terbesar di Indonesia oleh pejabat Kemenperin bersama perwakilan Pemprov Jatim.
Hadir Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin, Wakil Bupati Pamekasan Rajae, Gusti Putri dari Puro Pakualaman, dan para perajin batik yang tergabung dalam asosiasi batik dari seluruh Indonesia. Pada acara ini, PT Laksana Kurnia Mandiri Sejati (Lakumas) memperkenalkan kain mori berbahan serat Tencel sebagai bahan membatik dalam demo batik yang diikuti seribu pembatik.
“Lakumas bersama Lenzing Indonesia mensponsori kain mori untuk bahan batik berbahan dasar serat Tencel untuk seribu pembatik di Pamekasan. Kami memperkenalkan bahan alternatif daripada Sutra untuk Industri Kecil Menengah Batik di Madura,” kata Direktur PT Lakumas Erick Halim dalam siaran pers yang diterima Radar.
Gusti Putri dari Puro Pakualaman bahkan menyatakan tertarik untuk mencoba selendang ATBM dari serat Tencel untuk bisa dibatik di Jogjakarta. Selendang ATBM tersebut ditenun oleh perajin ATBM Tegal menggunakan benang Lakumas yang diproduksi di Lebaksiu.
“Madura sebagai salah satu sentra produksi batik tulis terbesar di Indonesia merupakan potensi pasar untuk produk akumas, terutama batik tulis halusan yang bernilai tinggi,” tambah Erick
Pasar Batik 17 Agustus Pamekasan merupakan pasar batik tradisional yang berdiri sejak Masyarakat perajin batik Kabupaten Pamekasan hingga kini berjumlah 6.526 orang, tersebar di 36 sentra batik, dengan 933 unit usaha, terdiri dari para perajin batik tulis serta sebagian pedagang bahan-bahan baku batik dan pedagang alat-alat produksi batik yang dibutuhkan perajin batik setempat.
Kriteria penilaian pemilihan Pasar Batik 17 Agustus Pamekasan sebagai pasar batik tulis tradisional terbesar di Indonesia didasarkan pada data empiris melalui survei langsung dan pengamatan langsung di lapangan, kemudian diolah secara kuantitatif oleh tim yang dibentuk dari pengurus Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI).
Hasil penilaian menunjukan Pasar Batik 17 Agustus Pamekasan sangat layak dikukuhkan sebagai pasar batik tulis tradisional terbesar di Indonesia dengan alasan terutama memiliki kekuatan menjaga tradisi batik tulis asli yang dikaitkan dengan pola dan ragam hias batik yang diproduksi dan diperdagangkan hanya produk-produk asli daerah tersebut, tidak dicampur dengan daerah lainnya.
PT Laksana Kurnia Mandiri Sejati (Lakumas) ikut berpartisipasi mendukung stan Kabupaten Tegal. Dukungan itu dibuktikan dalam acara Trade Expo Indonesia (TEI) 2019 yang diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition Bumi Serpong Damai (ICE BSD), Tangerang, Banten, selama lima hari sejak 16 Oktober sampai dengan 20 Oktober lalu.
Dalam pameran tersebut, Lakumas memamerkan produk sarung goyor sebagai kerajinan berkualitas ekspor. Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Tegal Siska Ardhie turut mendukung Industri Kecil Menengah Tegal dengan membeli sarung goyor yang diproduksi di Tegal dengan menggunakan benang Lakumas.
”Sudah ada buyer dari Somalia dan Kenya yang berminat, bahkan minta dikenalkan langsung dengan perajinnya. Produk Lakumas sudah berstandar internasional dan siap bersaing di level dunia,” kata Direktur PT Lakumas Erick Halim.
PAMERANG DAGANG – Direktur PT Lakumas Erick Halim (kiri) berada di depan stan Kabupaten Tegal bersama Ketua Dekranasda (kanan).
TEI merupakan ajang tahunan berskala internasional yang sebelumnya diadakan di Jakarta International Expo Kemayoran. Pada penyelenggaraannya yang ke-34 tahun ini, TEI 2019 mengusung tema Moving Forward to Serve the World. Sesuai tema tersebut, TEI merupakan ajang yang tepat untuk mempromosikan produk berkualitas buatan Indonesia untuk dipasarkan secara global.
Pada TEI 2019, tercatat 1.497 perusahaan nasional yang memamerkan produk dan jasa terbaik di Indonesia, mulai dari produk manufaktur, produk kreatif inovatif, industri strategis, hingga kerajinan Fokus utama penyelenggaraan TEI adalah kerja sama business to business (B2B) yang bersifat jangka panjang dan bertaraf internasional, untuk meningkatkan ekspor Indonesia.
Sumber Berita : RADAR TEGAL SENIN, 21 OKTOBER 2019