Hi, How Can We Help You?

Tag Archives: #Seratwol

Proses Produksi Serat Wol, dari Ternak Hingga Menjadi Kain

Sebelum jadi selembar kain, serat wol terlebih dahulu melalui tahapan proses yang panjang. Tahapan proses ini menjadi salah satu faktor mengapa benang wol dihargai cukup mahal. Bahkan ada satu jenis yang sangat mahal namun tetap dicari konsumen.

Setiap tahun terdapat setidaknya 1, 2 juta kilogram wol mentah dari 500 jenis domba yang tersebar di seluruh dunia. Hasil produksi mentah ini dibedakan berdasarkan diameter, yaitu wol halus jika diameter <= 24,5 mikron, sedang ber diameter 24,6-32,5 mikron, kasar >32,5 mikron.

Serat halus dibuat menjadi pakaian, sedangkan yang lebih tebal digunakan untuk permadani dan tekstil interior. Di bawah ini adalah rangkaian proses bagaimana bulu dari hewan ternak bisa dibuat menjadi kain.

7 Tahapan Proses Produksi Serat Wol

 

Sebelum Anda bertanya, mengapa wol harganya mahal? Anda harus tahu bagaimana prosesnya dari binatang ternak hingga didapatkan benang siap proses. Di bawah ini adalah 7 tahapan tersebut.

1.      Pencukuran Bulu

Proses pertama produksi wol adalah pencukuran bulu domba. Pencukuran ini sama halnya seperti panen, dilakukan dalam periode tertentu dalam hal ini adalah setahun sekali pada musim semi.

Mengapa musim semi, sebab hewan tidak lagi membutuhkan bulu tebal untuk insulasi. Bulu domba dicukur menggunakan tenaga manusia yaitu dengan tangan. Satu helai bulu domba memiliki berat sekitar 6-18 pon.

2.      Grading (Penilaian) dan Sorting

Grading dan penyortiran adalah suatu proses untuk memecah bulu domba menjadi berbagai kualitas. Kualitas berbeda sebab bulu serat alam ini dihasilkan dari berbagai bagian domba. Kualitas paling baik adalah dari bagian bahu dan samping, dimana bagian ini nantinya dimanfaatkan untuk membuat pakaian.

3.      Pembersihan serta Penggosok

Proses selanjutnya adalah pembersihan dengan penggosokan. Tujuannya untuk membersihkan serat dari kontaminan seperti debu, lumpur, kotoran. Berat kontaminan sendiri bisa sampai 30-70% dari berat bulu.

Cara pembersihan cukup sederhana dengan menggosok bulu menggunakan ari. Kemudian ditambahkan sabun serta bahan alkali agar didapatkan serat atau bulu yang benar-benar bersih.

4.      Carding

Setelah didapatkan bulu bersih dari pembersihan pertama, dilanjutkan dengan carding. Yaitu proses berupa pelurusan. Serat atau bulu pada tahap ini dilewatkan pada gigi logam yang sudah disetting ukurannya.

Pada tahap ini juga terjadi pemisahan serat berdasarkan ukurannya. Nantinya akan dihasilkan serat pendek dan panjang. Proses selanjutnya akan masuk pada pemintalan menjadi benang seperti yang dilakukan untuk produksi benang Lakumas.

5.      Pemintalan

Selesai dari proses carding atau penyisiran, wol akan langsung diubah menjadi satu helai benang. Tahapan ini disebut dengan pemintalan. Setelah dihasilkan satu helai benang dari hasil pemintalan nantinya akan dipintal kembali secara bersamaan dengan helai lain.

Pintalan dari beberapa helai benang ini disebut dengan ply. Salah satu keutamaan serat dari bulu domba ini adalah memiliki skala yang baik. Sehingga proses pemintalannya lebih mudah jika dibanding serat lain.

6.      Proses Tenun

Setelah jadi pintalan benang, langkah selanjutnya adalah menenun. Dari hasil tenun ini akan dihasilkan selembar kain, umumnya dalam bentuk kepar atau tenun polos.

Tenun kepar menghasilkan kualitas yang halus dan harganya cukup mahal, namun daya tahannya sangat kuat. Sementara tenun polos menghasilkan konstruksi lebih longgar serta permukaannya lembut.

7.      Finishing

Tahap finishing bertujuan untuk menciptakan karakteristik akhir yang diinginkan. Wol dapat diisi, disusutkan, diisi kemudian juga dikerutkan untuk saling mengunci dan mengatur serat. Selanjutnya dicelupkan dalam proses pewarnaan.

Rangkaian proses produksi di atas menghasilkan kain berharga mahal, terutama karena proses tenun dan finishing. Semakin halus seperti yang dihasilkan dari tenun kepar, kemudian semakin bervariasi karakteristiknya, serat wol akan dihargai lebih mahal.

Alasan Serat Wol Dipilih sebagai Bahan Baku Benang Lakumas

Serat wol tidak hanya diproduksi di Negara yang memiliki iklim sub tropis saja. Di Indonesia serat alami ini juga banyak diproduksi menjadi benang berkualitas. Hal ini menyesuaikan dengan permintaan yang cukup tinggi di dalam negeri.

Tidak hanya dimanfaatkan untuk membuat pakaian, wol juga kerap kali digunakan sebagai bahan utama kerajinan. Seperti kerajinan rajut tas, rajut sandal, sepatu, aksesoris, pakaian anak bayi, kostum unik dan banyak lagi.

Salah satu produsen yang memintal serat alami ini menjadi benang adalah Lakumas. Dipilih bahan ini karena terbukti menghasilkan benang berkualitas. Di bawah ini adalah beberapa alasan mengapa wol dipilih sebagai bahan pembuat benang.

Sifat Keunggulan Serat Wol yang Unik

 

Berasal dari bahan alami yaitu bulu hewan, wol memiliki keunggulan yang tidak dapat ditandingi oleh serat lain. Di bawah ini adalah keunggulan yang menjadikannya alasan dipilih sebagai bahan utama pembuat benang berkualitas Lakumas.

1.      Tidak mudah berkerut

Keunggulan pertama adalah karena serat tidak mudah berkerut ketika nanti dipintal menjadi benang. Alasan ini menjadi pertimbangan utama karena menunjukkan bahwa sifat kain yang dihasilkan nantinya dapat kembali ke bentuknya semula, tidak mudah kusut.

2.      Sirkulasi udara dan air baik

Pertimbangan selanjutnya adalah karena memiliki sifat memudahkan sirkulasi udara dan air. Benang wol mampu menyerap air dalam jumlah besar kemudian menguapkannya ke udara. Jadi pada saat dipakai sebagai bahan pembuat pakaian tetap nyaman digunakan.

3.      Elastis

Memiliki sifat elastisitas yang baik sehingga serat ini banyak dimanfaatkan untuk campuran benang pembuat pakaian olahraga. Tidak mudah sobek karena aktifitas fisik peregangan dan sebagainya.

4.      Sifat Kainnya

Sifat ini sangat diminati oleh konsumen akhir. Sehingga permintaan kain dengan sifat yang halus dan lembut terus meningkat. Inilah alasan mengapa banyak produsen benang menggunakannya.

5.      Anti-statis

Tidak menciptakan listrik statis, sehingga nyaman dipakai di badan. Selain itu juga meminimalisir kemungkinan iritasi pada kulit pemakai akibat gesekan selama pemakaian.

Ketersediaannya di Alam Bersifat Sustainable

Selain karena sifatnya, pabrik spinning mill Lakumas menggunakan wol sebagai bahan pembuat benang karena ketersediaannya di alam melimpah. Bisa diperbaharui kembali dalam waktu singkat dan tidak akan kekurangan stok bahan mentah.

Serat dari bulu binatang domba, kambing, atau binatang mamalia lain berbulu tebal mudah ditemukan. Produsen benang umumnya sudah menjalin kerja sama dengan peternak besar untuk menyediakan bahan mentah industri tekstil mereka.

Selain itu, tidak sedikit juga produsen benang yang sengaja mengembangbiakkan hewan untuk diambil bulunya. Pengembangbiakan dilakukan sesuai habitat aslinya sehingga kualitas serat dari hewan tidak menurun.

Ketersediaan bahan mentah untuk produksi benang berkualitas Lakumas ini sangat penting, sebab berpengaruh langsung terhadap kelancaran aktifitas usaha. Jumlah atau kualitas yang menurun bisa berpengaruh terhadap cost dan berimbas pada harga jual.

Namun karena wol berasal dari sumber alam yang dapat dengan cepat diperbaharui, ketersediaannya terjamin. Berbeda dengan serat sintetis yang tergantung pada produsen bersangkutan serta harga jual di pasaran.

Selain dari ketersediaan, alasan produsen menggunakan wol sebagai bahan baku pembuatan benang karena untuk memenuhi permintaan konsumen. Masih banyak konsumen yang merupakan produsen pakaian membutuhkan bahan dari wol.

Diantaranya dijadikan sebagai pakaian hangat, jaket, pakaian bayi, blazer, juga berbagai aksesoris dan kerajinan. Jadi tidak hanya dijual dalam bentuk kain, namun juga pintalan benang sesuai permintaan.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi produsen pembuat benang dalam memilih bahan baku. Bahan baku berkualitas dan tersedia di alam seperti serat wol masih sangat dibutuhkan terutama karena permintaan pasar, karakteristik, kualitas serta ketersediaannya.

Keunikan Serat Wol dari Rambut Domba dan Karakteristiknya

Serat wol paling banyak dimanfaatkan untuk membuat baju hangat yaitu sweater, blazer, jaket hoodie dan sebagainya. Alasannya karena serat ini memiliki sifat yang menghangatkan bagi pemakainya.

Berasal dari bulu hewan lebat seperti domba, kelinci, unta Llama, alpaca, guanaco, vicuna bahkan bisa juga sapi, serat ini dikenal memiliki sifat hangat. Kebutuhan paling banyak tentu saja di Negara subtropis yang memiliki musim dingin.

Namun kini, ditunjang dengan teknologi, pengolahan wol bisa dipakai untuk berbagai tipe pakaian dan produk lainnya. Kebutuhannya menyebar ke seluruh penjuru dunia. Wol sendiri memiliki karakteristik dan sejarah perkembangan yang unik.

Karakteristik Unik Serat Wol Rambut Domba

Wol memiliki karakteristik unik yang tidak bisa digantikan oleh bahan lain. Dihasilkan dari serat biologis kompleks yang terbentuk secara alami. Didalamnya terdapat susunan protein, menghasilkan sifat fleksibilitas serta kualitas sangat baik.

Lakumas memanfaatkan serat ini sebagai salah satu bahan benang berkualitasnya. Struktur fisika yang kompleks menghasilkan tekstur benang tidak halus jika dilihat menggunakan mikroskop. Hal ini terjadi karena adanya kutikula tumpang tindih pada permukaannya.

Jika dilihat secara seksama, permukaan benang seperti bersisik. Namun ini adalah karakteristik dari serat ini yang sekaligus jadi kelebihannya. Sisik-sisik tersebut memiliki fungsi untuk melindungi bahan dari kotoran seperti debu.

Dengan kata lain, pakaian yang dibuat menggunakan bahan wol tidak akan mudah kotor karena debu. Selain itu, bahannya memiliki pori-pori yang cukup besar sehingga memungkinkan untuk adanya sirkulasi udara.

Hal ini menjadi alasan mengapa saat ini di Negara yang tidak memiliki musim dingin juga banyak memanfaatkannya sebagai pakaian. Sebab dengan ketebalan tertentu, tetap nyaman digunakan meski siang hari.

Permukaannya halus dan lembut menghindarkan dari risiko iritasi. Tidak heran jika banyak dimanfaatkan untuk pembuatan pakaian dan fashion item untuk anak. Seperti baju hangat, topi, kaos kaki, sarung tangan bayi.

Perkembangan Wol Sejak Zaman Renaissance sampai Sekarang

 

Wol sebagai serat alami yang dihasilkan dari bulu hewan sangat unik. Memiliki sejarah panjang hingga dikenal secara luas seperti saat ini. Pada zaman Renaissance, perdagangan domba sangat masif di Spanyol.

Hingga pada masa itu dikeluarkan larangan untuk menjual domba keluar negeri. Ini terjadi antara abad ke 15 sampai 18. Spanyol sendiri memiliki jenis domba berkualitas yaitu Merino. Larangan ekspor domba kemudian dicabut pada tahun 1777, domba Merino mulai dikembangbiakkan.

Peternakan Merino secara selektif di Negara-negara yang memiliki iklim sama, sehingga menghasilkan serat dengan kualitas terbaik. Namun demikian, harganya masih terbilang mahal hingga banyak dibuat alternatifnya sejak abad ke 20.

Sejak tahun 1960, industri tekstil mulai melirik serat lebih murah yaitu dengan menanam kapas dan mengembangbiakkan sapi. Hingga kini bahkan dengan bantuan teknologi, semakin mudah menghasilkan benang kompetitornya yaitu dari serat sintetis.

Namun demikian, permintaan terhadap benang atau kain wol masih terus ada. Pemanfaatannya bukan lagi sebagai baju hanta namun lebih beragam. Terutama bagi para penggemar dan pengkoleksi, wol masih memiliki nilai eksklusif.

Terbukti dengan adanya jenis wol vicuna yang terkenal sangat mahal harganya. Karakteristik khasnya tidak tergantikan karena berasal dari bulu hewan yang kembangbiakkan secara alami di habitatnya.

Serat yang dihasilkan berkualitas karena tidak ada campuran bahan kimia. Selain itu teksturnya juga memiliki ciri khas dan tidak bisa ditandingi oleh sintetis atau serat lain. Di daerah tropis seperti Indonesia serat wol sendiri dimanfaatkan juga untuk kerajinan selain untuk tekstil.