Hi, How Can We Help You?

Tag Archives: #BenangCrayon

Apa Itu COP? Apa yang Penting di COP-26 Ini?

Baru-baru ini telah terlaksana konferensi besar yang dihadiri berbagai Negara guna membahas darurat perubahan iklim. Tepatnya 31 Oktober sampai 12 November lalu, acara diselenggarakan di Glasgow, Skotlandia. COP singkatan dari Conference of the parties dan Indonesia jadi salah satu pihak yang berpartisipasi. Tahun ini adalah penyelenggaraan COP-26, dimana dunia sudah masuk dalam global warming yang parah.

Maksud dari terselenggaranya acara taraf internasional tersebut adalah sebagai langkah mitigasi krisis iklim. Dimana dampaknya sudah sangat terasa yaitu peningkatan suhu bumi yang setiap tahun meninggi.

Mengenal Apa yang Dimaksud COP

COP merupakan pertemuan tingkat internasional, diprakarsai PBB khusus membahas climate change atau perubahan iklim. Dimana perubahan terjadi merupakan dampak dari pemanasan global di seluruh dunia. Pertama kali diselenggarakan di Rio de Janeiro, Brasil tahun 1992 bertajuk Earth Summit. Konferensi ini harusnya terlaksana setiap tahun, 2021 dijadwalkan untuk COP 27. Namun tertunda satu tahun akibat pandemi.

Mengapa acara ini penting, sebab krisis iklim sudah di depan mata. Mencapai level mematikan yang mengancam keberlangsungan kehidupan di muka bumi. Pemanasan global sudah mencapai 20 celcius. Dampaknya sangat sulit ditoleransi seperti mencairnya es di kutub utara. Sedangkan level yang masih rasional adalah sebesar 1,50C. Ini yang menjadi target dan harus dipenuhi oleh semua Negara.

Sebelumnya terdapat komitmen bahwa batas emisi Negara maju harus tercapai pada tahun 2012. Tertuang dalam Protokol Kyoto 1997. Lalu ditegaskan kembali melalui Perjanjian Paris tahun 2015. Kesepakatan menurunkan pemanasan global didapat saat Perjanjian Paris. Dan COP-26 di Gasglow adalah momentum mewujudkan peraturan yang diberlakukan guna memenuhi komitment dalam Perjanjian Paris.

Melaui UNFCCC atau Unites Nations Framework Convention on Climate Change para pihak menyetujui kestabilan konsentrasi gas rumah kaca. Mengingat tingginya emisi gas rumah kaca atau karbon di atmosfer membahayakan kehidupan.

Pesan Penting dari COP-26               

Dunia masuk darurat perubahan iklim, ini perlu disadari oleh semua Negara seluruh dunia. Perubahan iklim tentu saja menjadi ancaman kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya selama beberapa decade terakhir. Para ahli memprediksi terjadi kenaikan global warming hingga 2,70C. Kenaikan suhu cukup signifikan tersebut pada abad ini dapat memicu terjadinya bencana alam. Indonesia sudah menunjukkan gejala perubahan iklim global tersebut.

Anda tentu ingat banjir Sintang, Kalimantan Barat, berlangsung hingga lebih dari 2 minggu. Juga wilayah Kalimantan lainnya, sebelumnya belum pernah terjadi, merupakan yang paling parah sejak 10 tahun terakhir. Merupakan dampak nyata dari climate change, diakibatkan karena masifnya deforestasi. Isu ini sempat menjadi perdebatan antara Greenpeace dengan Kementrian LHK. Dimana hutan Kalimantan semakin sempit akibat pembukaan lahan untuk food estate.

Pembukaan lahan menyebabkan Kalimantan Barat kehilangan 1,25 juta hektar hutan. Ini merupakan hasil analisa dari Global Forest Watch untuk tahun 2002 hingga 2020.

Data Greenpeace tahun 2010 menyebut hutan di Kalimantan hanya 25,5 juta hektar yang masih tersisa. Laju deforestasi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan paling tinggi menurut Guiness Book of The Record.

 

Alih fungsi dari hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, serta kemajuan industri kayu menjadi penyebabnya. Maka tidak heran jika wilayah yang semula aman saat hujan, kemudian mengalami banjir pada level parah.Untuk itu Indonesia mengambil komitmen menurunkan laju deforestasi di tahun 2030 menjadi nol. Serta menyepakati penghentian penggunaan batu bara, mengganti bahan bakar terbarukan di tahun 2040 untuk menghentikan climate change.

Peran Industri Tekstil untuk Mengurangi Efek Perubahan Iklim

Aksi peduli lingkungan perlu dilakukan oleh industri tekstil. Sektor ini menempati peringkat kedua sebagai penghasil polusi di alam. Dimana polusi tersebut berdampak pada pemanasan global. Polusi udara yang dihasilkan saat proses produksi memperbesar konsentrasi gas rumah kaca. Menyebabkan suhu bumi meningkat melebihi ambang batas setiap tahunnya. Kondisi ini menjadi pemicu terjadinya bencana alam.

Indonesia menduduki peringkat 10 negara penghasil tekstil. Merupakan eksportir produk pakaian yang berada di peringkat 12 dunia. Dengan kata lain, perannya dalam memperparah emisi karbon cukup besar. Menjadi catatan sendiri bagaimana upaya Indonesia untuk mengurangi efek buruk krisis iklim sesuai komitmen di COP26. Berbagai kebijakan diterapkan untuk industri hulu maupun hilir untuk membuktikan komitmen tersebut.

Peran Industri Hulu dan Hilir Terhadap Resiko Pencemaran Lingkungan

Industri hulu adalah tempat terjadinya proses pembuatan alat-alat kebutuhan pabrik, serta mengolah bahan mentah menjadi setengah jadi. Hasilnya kemudian akan digunakan oleh industri hilir untuk produksi akhir. Dalam dunia tekstil, tidak hanya digunakan bahan anorganik sebagai bahan baku pembuatan pakaian. Namun saat ini lebih banyak digunakan bahan sintetis seperti polyester. Serat benang polyester dihasilkan dari minyak bumi.

Mengikuti sertifikasi proses produksi, penggunaan bahan mentah serta hasil akhir yaitu produk dan hasil buangannya. Ini perlu dilakukan sebagai kontrol terhadap proses yang dilaksanakan dalam industri.

Pengolahan minyak bumi menjadi serat-serat benang membutuhkan bahan bakar dari batu bara. Produksi dalam jumlah banyak, sudah pasti akan menghasilkan pembakaran karbon lebih besar yang berdampak pada lingkungan. Tidak berhenti disitu, proses yang terjadi di industri hilir juga berpotensi menghasilkan limbah. Pengolahan bahan polyester menjadi pakaian jadi juga berdampak pada pencemaran lingkungan air dan tanah.

 

Salah satunya pada proses pewarnaan. Saat ini lebih banyak digunakan pewarna tekstil sintetis yang menghasilkan limbah ke aliran sungai. Menyebabkan ketidakseimbangan pH dan mengancam kehidupan air. Penggunaan benang atau serat kain dari hasil pengolahan minyak bumi mencemari tanah karena tidak mudah terdegradasi. Dibutuhkan waktu ribuan tahun dalam proses penguraiannya. Ini menyebabkan toxic dan mengganggu keseimbangan tanah.

Upaya Industri Tekstil Mengurangi Perubahan Iklim

Demi mengurangi dampak negatif hasil pengolahan industri hulu maupun hilir sektor tekstil, perlu upaya lebih. Sebagai bentuk pertanggungjawaban perusahaan, meminimalisir pencemaran menjadi langkah terbaik, seperti berikut ini.

 

  1. Menggunakan bahan baku ramah lingkungan

Mulai mengalihkan penggunaan bahan baku beresiko dan mengganti dengan yang ramah lingkungan. Mudah diurai, tidak meninggalkan residu baik di dalam air maupun tanah. Salah satunya memanfaatkan benang Candimas. Benang ini berasal dari material organik. Diolah dari bahan dasar kayu yang hasil akhirnya nanti dapat terdegradasi dengan cepat dan mudah di alam. Material tencel menyerap pewarna alami lebih baik sehingga tidak perlu pewarna sintetis.

  1. Sertifikasi

 

Memastikannya aman mulai dari awal hingga akhir. Baik bagi lingkungan sekitar maupun konsumen sebagai pengguna produk. Tidak menimbulkan pencemaran atau menyebabkan iritasi.

  1. Pengurangan proses yang menggunakan emisi karbon

Mengurangi emisi karbon dalam proses produksi bahan mentah, alat berat, mesin maupun pengolahan menjadi produk akhir. Misalnya efisiensi energi yang produksinya memanfaatkan bahan bakar batu bara.Mengurangi proses yang melibatkan proses pembakaran bahan bakar fosil. Sebab ini juga menjadi pemicu emisi karbon meningkat dalam konsentrasi tinggi. Sebaliknya, ganti dengan energi bersih dan terbarukan.

Dalam proses industri tekstil, paling tepat Anda menggunakan bahan-bahan organik ramah lingkungan. Anda dapat memilih bahan baku kain dari Lakumas, spesialis serat kain organik berkualitas dan aman bagi lingkungan.

INAUGURAL TENUN FASHION WEEK CULMINATES IN CELEBRATORY FASHION SHOWCASE

Kuching, 3 December 2021 – The Sarawak Minister of Tourism, Arts and Culture; Yang Berhormat Dato Sri Haji Abdul Karim Rahman Hamzah; today officiated a gala dinner, featuring a unique runway fashion showcase at the Borneo Convention Centre Kuching. The event presented fashion collections using handwoven material produced by weaving communities across Southeast Asia, using traditional handlooms and employing techniques handed down from generation to generation.

The event marked the culmination of the inaugural TENUN Fashion Week, which was presented virtually from 15 to 17 October, and saw the participation of 45 weaving communities across countries in Southeast Asia, namely Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Philippines, Thailand and Vietnam.

Dedicated completely to these handweaves while reimagining their continued relevance by exploring their use in modern fashion, the TENUN Fashion Week was organised by the Maybank Foundation, through its Maybank Women Eco-Weavers programme, in collaboration with the ASEAN Handicraft Promotion and Development Association (AHPADA); and Tanoti – a Malaysian social enterprise dedicated to heritage craft preservation, women empowerment and rural community-building.

 

A fashion showcase quite unlike any other

In Southeast Asia, where textile weaving is traditionally taken up by women, hundreds of weaving communities make up a virtually untold but vital part of the region’s traditional fashion, culture and shared heritage. With humble hands, these women meticulously produce intricate fabrics – from exquisite material produced for royal courts to vivid cloths encompassing a tremendous range of imagery, demonstrating considerable technical prowess. Although these beautiful works of art continue to stand the test of time, the women who create them find it hard to survive in modern times.

As such, the TENUN Fashion Week and ensuing live gala fashion showcase truly stands out from other typical fashion events, in that it emphasises a particular focus on the creation of handwoven textiles in Southeast Asia, while shining a large spotlight on the participating communities that produce them, along with their unique stories.

In many ways, the unprecedented nature of the TENUN Fashion Week and live gala fashion showcase not only marked the first-ever coming together of these weaving communities, but also the visual representation of their unique works and stories. This unprecedented endeavour was symbolically manifested at the live fashion gala event, in the form of the “Weaver’s Anthem”, a distinctively special musical performance produced using weaving instruments.

“While Malaysia’s unique cultural legacy truly stands out and is celebrated all across the world, I believe we can play a unique role in championing our shared heritage with other countries, especially within Southeast Asia. In this regard, I would like to congratulate the organisers of the TENUN Fashion Week and this fashion show for presenting what I truly believe will be a catalyst towards the furtherance of the regional weaving industry,” said Dato Sri Haji Abdul Karim at the live gala fashion showcase.

During the evening’s programme, three participating weaving communities were announced as award winners for their winning collection of textiles which were showcased in the TENUN Fashion Week.

These were Tohsang Cotton Village from Thailand who were awarded the TENUN Best Collection Award and Rumah Rakuji, together with the weaving community of Tunas Mekar Batubura from Indonesia, who won the Lakumas Most Innovative Weaves Award. Both these awards were judged by a prestigious panel of adjudicators, including Rocco Gaglioti, founder of International Digital Fashion Week; Marianna Miceli, founder of Mad Mood Milano Fashion Week; and Aidarkhan Kaliyev, founder of Aspara Fashion Week.

The Bengkalis Community of the Peatland and Mangrove Restoration Agency (BRGM), Indonesia was awarded a People’s Choice Award determined by public votes based on their choice of the best collection among those featured over the course of the TENUN Fashion Week.

The winners in all three categories each received cash prizes and six kilograms of Candimas Tencel yarn, sponsored by PT Lakumas, who also sponsored the cash prize for the Most Innovative Weaves Award.

 

Setting the stage

“We set out to organise the TENUN Fashion Week, chiefly to create awareness towards the unique handweaves of Southeast Asia by bringing them out into the open, thus improving their marketability and subsequently, their profitability. Seeing this inaugural event reach the scale and magnitude that it has is truly rewarding, particularly for the participating weaving communities. But it also shows the promising potential of the TENUN platform,” said Jacqueline Fong, Co-organiser of TENUN Fashion Week and Director of Tanoti.

Already, plans are underway to make TENUN annual event.  Undeniably, the stage is set for what has become an instrumental platform in presenting Asian handweaves to the world.

“I think it was a very unique experience in that everyone that participated were very excited to be in this project. Many of these communities had never previously participated in any fashion showcase outside their own countries! The other notable experience was the learning of their stories, their textile traditions and ancestral weaving techniques, and conveying them to TENUN’s audience,” added Fong.

All the collections showcased by TENUN are available for purchase via its e-commerce platform on the TENUN website, which will also feature promotional videos and contact listings of the participating communities.

More details are available at www.tenunfashionweek.com.

Mengenal Seragam TNI yang Dibuat dari Kain Semi Woll

Seragam TNI terkenal dengan corak loreng uniknya yang memperlihatkan kegagahan dari setiap prajurit. Hal ini juga sangat penting karena pada dasarnya seragam merupakan identitas kebanggaan.

Di TNI sendiri ada 3 divisi, yaitu AD, AL, dan AU. Ketiganya memiliki peran penting masing-masing dalam menjaga kedaulatan negara. Ketiganya juga memiliki seragam yang berbeda-beda.

Jika dilihat lebih jauh, seragam yang digunakan oleh prajurit TNI tidak dibuat dari bahan sembarangan. Ada benang khusus untuk membuat kain. Kemudian dijadikan sebagai seragam untuk masa dinas.

Seragam TNI yang Biasanya Digunakan

Faktanya, setiap divisi memiliki corak dan motif seragamnya masing-masing. Hal ini juga berkaitan dengan visi misi serta tugas dari setiap divisi. Untuk lebih lanjut, berikut perbedaannya.

  1. AD

Angkatan Darat atau AD jadi divisi paling populer karena memiliki motif familiar. Motif loreng dengan beberapa paduan warna. Paduan warna ini menjadikan setiap prajurit terlihat lebih gagah.

Dalam pakaian tersebut, ada beberapa bedge pangkat yang menandakan status dari setiap prajurit. Misalnya, di bagian bahu terdapat simbol pangkat untuk menunjukkan status dan jabatan dari prajurit tersebut.

  1. AL

Di sisi lain, Angkatan Laut memiliki beberapa pakaian berbeda untuk setiap acara. Misalnya, pakaian untuk olahraga, upacara, hingga pakaian penerbang. Jadi, ada cukup banyak jenisnya bagi prajurit AL.

Bahkan, ada juga seragam khusus untuk hamil. Meskipun terlihat ketat, tapi pakaian ini terbuat dari bahan khusus. Jadi tidak akan membuat penggunanya merasa tidak nyaman.

  1. AU

Untuk seragam dari Angkatan Udara memiliki warna khas biru loreng. Hal ini juga melambangkan tugasnya untuk menjaga wilayah Indonesia dari udara. Identik dengan langit biru sebagai simbol kebebasan.

Sama dengan divisi lain, AU juga memiliki beberapa pakaian dinas. Sebut saja ada PDL, pakaian drumband, hingga untuk penerbangan. Semuanya disesuaikan berdasarkan fungsi dan kebutuhannya masing-masing.

Jenis Baret TNI yang Ada di Seragam

Seragam tidak akan lengkap jika tanpa adanya baret. Ini merupakan sebuah topi berwarna yang melambangkan setiap satuan divisi. Dalam setiap divisi juga ada beberapa pasukan khusus dengan warna baret beda-beda.

Misalnya, Kostrad atau Komando Cadangan Strategi AD memiliki warna baret hijau. Kopassus atau Komando Pasukan Khusus memiliki baret warna merah. Penerbang AD juga memiliki warna baret merah.

Setiap warna baret TNI juga diberikan sebuah lencana khusus. Misalnya, Kostrad dengan lancana Cakra Sapta Agni, Kopasus memiliki lambang Tribuana Chandraca Satya Dharma, atau pasukan Infanteri melalui lancana Yudha Wastu Pramuka.

Setiap lancana pada baret memiliki makna masing-masing sebagai simbol semangat. Bukan hanya di AD, tapi juga berlaku bagi AU atau AL. Semuanya memiliki lancananya masing-masing.

Bahan yang Sering Dipakai Membuat Seragam

Karena seragam yang digunakan TNI adalah pakaian khusus, maka bahan bakunya juga tidak sembarangan. Tidak semua kain dapat digunakan untuk membuat PDL. Berikut beberapa kain paling sering dipakai.

  1. Twist Drill

Kain Drill memiliki sifat dan karakter water repellent. Artinya ketika terkena air maka tidak akan mudah menembus ke dalam. Sangat cocok untuk dipakai pada kegiatan luar ruangan.

  1. American Drill

Dibuat dari katun dan polyester, American Drill memiliki serta lebih kecil jika dibandingkan dengan Japan Drill. Memiliki karakteristik halus dan dingin ketika digunakan dalam beberapa kondisi

  1. Ripstop

Ada juga kain Ripstop dengan tekstur kotak-kotak. Dibuat dari hasil penenunan nilon dan diperkuat dengan selingan benang. Karena dibuat dengan teknik khusus, maka karakteristiknya juga cukup kuat.

Perusahaan Lakumas juga memproduksi benang yang digunakan untuk membuat seragam untuk TNI. Seragam ini banyak dibuat oleh bahan drill dan kain semiwoll yang mana jenis benangnya diproduksi oleh PT Lakumas, diantaranya Teteron Cotton.

Pakaian dina TNI memegang peranan penting sebagai simbol dan status dari prajurit. Untuk itu, seragam ini harus dibuat dari bahan berkualitas, misalnya kain semi woll atau kain drill.

Selain Sutera, Ini Bahan Baku Tenun yang Banyak Dipakai

Saat ini, banyak kain tenun dibuat dari serat alami maupun serat sintetis. Seperti yang sudah diketahui, kain tenun jadi salah satu komoditas tekstil paling dicari. Nilai dan keistimewaannya sangat tinggi. Ada banyak sekali jenis tenun yang sangat terkenal hingga luar negeri. Tenun Sumba, Bali dan Toraja memiliki nilai tertinggi karena karakter istimewanya. Ketiganya memiliki corak khas yang melambangkan keharmonisan. Bukan hanya coraknya saja, tapi juga benang yang digunakan tidak sembarangan. Umumnya, mereka menggunakan serat dari alam seperti serat selulosa. Namun, sebenarnya masih banyak lagi jenis benang yang sering dipakai. Benang yang Sering Dipakai atau Digunakan Faktanya, sampai saat ini ada banyak sekali jenis benang maupun kain. Beberapa diantaranya merupakan bahan semi-sintetis dari gabungan 2 jenis benang. Berikut beberapa jenis kain yang sering dipakai. 1.	Katun Cotton sebenarnya merupakan kain yang cukup banyak dijumpai. Selain itu, cotton juga memiliki banyak varian lain mulai dari jenis biasa, combed, dan sebagainya. Setiap jenis tentu memiliki perbedaan masing-masing. Misalnya adalah cotton combed yang merupakan jenis cotton biasa, tapi ada penyisiran pada bagian akhir. Hasilnya, serat-serat kapas pada permukaan dapat dihilangkan serta menjadikan cotton combed jadi lebih halus. Ada juga japanese cotton yang merupakan 100% dari bahan organik sekitar. Karena menggunakan bahan organik, teksturnya juga jauh lebih halus. Bahkan, tingkat penyerapan keringat juga sangat baik. Ada juga jenis toyobo dengan karakter tebal serta lebih glossy. Meski lebih tebal, tapi ketika digunakan tidak mudah gerah. Hal ini juga yang membuatnya banyak dipakai untuk membuat tenun. 2.	Rayon Secara teknis, ini merupakan benang yang terbuat dari serat kayu atau serat selulosa. Namun, dengan adanya kombinasi menggunakan bahan lain membuatnya memiliki banyak jenis mulai dari spandex hingga jersey. Spandex sendiri umumnya memilki karakteristik warna cerah dan mampu lekuk badan. Di sisi lain, tekstur permukaannya cukup lembut dan lentur. Biasanya juga sering dipakai untuk membuat tenun khas. Ada juga jenis yang cocok untuk membuat jersey. Dari sisi karakteristik, jersey memiliki sifat melar dan mengkilap. Permukaannya sangat lembut meskipun daya serapnya sangat rendah. Kombinasi lain adalah yang menghasilkan PE. Tekstur luarnya cukup kasar sehingga mudah untuk robek. Selain itu, ketika digunakan juga terasa cukup panas sehingga jarang dipakai untuk membuat tenun. 3.	Tencel Sama seperti bahan kain lainnya, jenis satu ini juga memiliki beberapa varian. Umumnya, banyak industri tekstil juga mengkombinasikannya dengan bahan lain. Jadi, varian dari kain untuk tenun jauh lebih banyak. Misalnya, jenis lyocell memiliki karakteristik yang nyaman dan lembut. Daya serapnya juga sangat baik sehingga banyak digunakan. Lyocell juga sering dipakai untuk membuat tenun khas. Ada juga jenis tencel-modal yang juga memiliki permukaan lembut dan nyaman. Bahkan, ini lebih lentur dari pada lyocell. Baik lyocell maupun modal merupakan olahan dari pelarutan serat selulosa. 4.	Acrylic Akrilik banyak dikenal juga dengan nama cashmillon, vannel, hingga orlon. Meski penyebutannya berbeda, tapi karakteristiknya sama. Akrilik memiliki kemiripan dengan kain wol dan membuatnya sering digunakan sebagai syal. Karakteristik tersebut membuatnya banyak dipakai untuk membuat kain tenun. Banyak daerah lebih memiliki akrilik karena lebih baik dari sisi kualitas. Terutama karena lebih tebal dan hangat. Namun, akrilik justru jarang digunakan untuk tenun biasa. Jika tenun tersebut diproduksi secara massal dan untuk diperjualbelikan, biasanya menggunakan kain yang lebih ringan dari pada akrilik. Memang, tenun dapat dibuat menggunakan banyak jenis benang. Namun, tidak semua benang mampu menghasilkan tenun berkualitas. Serat alami biasanya lebih dipilih karena kualitasnya lebih terjamin.

Saat ini, banyak kain tenun dibuat dari serat alami maupun serat sintetis. Seperti yang sudah diketahui, kain tenun jadi salah satu komoditas tekstil paling dicari. Nilai dan keistimewaannya sangat tinggi.

Ada banyak sekali jenis tenun yang sangat terkenal hingga luar negeri. Tenun Sumba, Bali dan Toraja memiliki nilai tertinggi karena karakter istimewanya. Ketiganya memiliki corak khas yang melambangkan keharmonisan.

Bukan hanya coraknya saja, tapi juga benang yang digunakan tidak sembarangan. Umumnya, mereka menggunakan serat dari alam seperti serat selulosa. Namun, sebenarnya masih banyak lagi jenis benang yang sering dipakai.

Benang yang Sering Dipakai atau Digunakan

Faktanya, sampai saat ini ada banyak sekali jenis benang maupun kain. Beberapa diantaranya merupakan bahan semi-sintetis dari gabungan 2 jenis benang. Berikut beberapa jenis kain yang sering dipakai.

  1. Katun

Cotton sebenarnya merupakan kain yang cukup banyak dijumpai. Selain itu, cotton juga memiliki banyak varian lain mulai dari jenis biasa, combed, dan sebagainya. Setiap jenis tentu memiliki perbedaan masing-masing.

Misalnya adalah cotton combed yang merupakan jenis cotton biasa, tapi ada penyisiran pada bagian akhir. Hasilnya, serat-serat kapas pada permukaan dapat dihilangkan serta menjadikan cotton combed jadi lebih halus.

Ada juga japanese cotton yang merupakan 100% dari bahan organik sekitar. Karena menggunakan bahan organik, teksturnya juga jauh lebih halus. Bahkan, tingkat penyerapan keringat juga sangat baik.

Ada juga jenis toyobo dengan karakter tebal serta lebih glossy. Meski lebih tebal, tapi ketika digunakan tidak mudah gerah. Hal ini juga yang membuatnya banyak dipakai untuk membuat tenun.

  1. Rayon

Secara teknis, ini merupakan benang yang terbuat dari serat kayu atau serat selulosa. Namun, dengan adanya kombinasi menggunakan bahan lain membuatnya memiliki banyak jenis mulai dari spandex hingga jersey.

Spandex sendiri umumnya memilki karakteristik warna cerah dan mampu lekuk badan. Di sisi lain, tekstur permukaannya cukup lembut dan lentur. Biasanya juga sering dipakai untuk membuat tenun khas.

Ada juga jenis yang cocok untuk membuat jersey. Dari sisi karakteristik, jersey memiliki sifat melar dan mengkilap. Permukaannya sangat lembut meskipun daya serapnya sangat rendah.

Kombinasi lain adalah yang menghasilkan PE. Tekstur luarnya cukup kasar sehingga mudah untuk robek. Selain itu, ketika digunakan juga terasa cukup panas sehingga jarang dipakai untuk membuat tenun.

  1. Tencel

Sama seperti bahan kain lainnya, jenis satu ini juga memiliki beberapa varian. Umumnya, banyak industri tekstil juga mengkombinasikannya dengan bahan lain. Jadi, varian dari kain untuk tenun jauh lebih banyak.

Misalnya, jenis lyocell memiliki karakteristik yang nyaman dan lembut. Daya serapnya juga sangat baik sehingga banyak digunakan. Lyocell juga sering dipakai untuk membuat tenun khas.

Ada juga jenis tencel-modal yang juga memiliki permukaan lembut dan nyaman. Bahkan, ini lebih lentur dari pada lyocell. Baik lyocell maupun modal merupakan olahan dari pelarutan serat selulosa.

  1. Acrylic

Akrilik banyak dikenal juga dengan nama cashmillon, vannel, hingga orlon. Meski penyebutannya berbeda, tapi karakteristiknya sama. Akrilik memiliki kemiripan dengan kain wol dan membuatnya sering digunakan sebagai syal.

Karakteristik tersebut membuatnya banyak dipakai untuk membuat kain tenun. Banyak daerah lebih memiliki akrilik karena lebih baik dari sisi kualitas. Terutama karena lebih tebal dan hangat.

Namun, akrilik justru jarang digunakan untuk tenun biasa. Jika tenun tersebut diproduksi secara massal dan untuk diperjualbelikan, biasanya menggunakan kain yang lebih ringan dari pada akrilik.

Memang, tenun dapat dibuat menggunakan banyak jenis benang. Namun, tidak semua benang mampu menghasilkan tenun berkualitas. Serat alami biasanya lebih dipilih karena kualitasnya lebih terjamin.