Hi, How Can We Help You?

Category Archives: Business

Mengenal Jenis – Jenis dan Pewarnaan Tekstile

Dalam dunia tekstile ada pewarnaan alami dan sintetis yang harus Anda pelajari. Bahan tekstil semula memiliki warna dasar seperti putih atau cokelat, karena biasanya diambil dari bahan utama pembuatannya seperti kapas, serat kayu dan sejenisnya.

Namun tidak mungkin kain atau pakaian dibiarkan hanya berwarna putih dan cokelat saja, agar lebih beragam, tentu saja harus diberikan warna lainnya. Misalnya merah, kuning, biru dan lain sebagainya. Adanya warna juga membuat semua pakaian menjadi lebih menarik untuk dipakai.

Lakumas juga memproduksi benang, pakaian dan kain dalam berbagai warna untuk para konsumen. Dalam proses pewarnaannya, tentu ada teknik yang digunakan untuk menghasilkan warnanya tersebut, yaitu teknik menggunakan bahan alami dan memakai bahan sintetis.

Jika Anda belum pernah mengenal warna yang digunakan dalam industry tekstile, coba pahami penjelasan tentang beberapa jenis warna dan jenis pewarnaan berikut ini.

Jenis – Jenis Warna pada Tekstile

 

Ada banyak jenis warna yang digunakan dalam tekstile, misalnya kuning, merah, hijau, biru dan lain sebagainya. Bahkan bisa dikatakan semua warna yang ada di dunia ini pasti pernah dipresentasikan dalam sebuah kain atau pakaian.

Berdasarkan teori warna, ada juga campuran dari beberapa warna yang menimbulkan warna baru. Semua itu juga pasti pernah ada dalam sebuah pakaian. Namun yang harus dipahami adalah cara memberikan warnanya pada benang, kain dan pakaian.

Terdapat 2 cara pewarnaan yaitu secara alami dan sintetis. Keduanya sama – sama berfungsi memberi warna pada sebuah benang, kain atau pakaian. Namun tetap ada perbedaan antara 2 teknik pewarnaan tersebut.

Sebab masing – masing jenis pewarnaan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing – masing. Keduanya juga menggunakan bahan berbeda untuk pewarnaannya. Ada perbedaan seperti teknik mewarnai alami membutuhkan modal banyak, sedangkan sintetis tidak.

Perbedaan Pewarnaan Alami dan Sintetis Tekstile

Teknik pewarnaan dilakukan untuk memberikan warna kepada benang, kain atau pakaian. Jika menggunakan teknik alami, maka sudah dipastikan teknik ini dikenal sejak waktu yang sangat lama. Sebelum ada teknologi dalam pewarnaan, pasti menggunakan teknik alami dulu.

Teknik pewarnaan yang alami menggunakan bahan – bahan alami untuk pewarnaannya. Misalnya kunyit, mawar, Tencel warna tekstil dan lain sebagainya. Caranya adalah dengan merendam pakaian ke dalam air yang sudah dicampur dengan bahan alami tersebut.

Sedangkan teknik sintesis digunakan dengan memanfaatkan bahan kimiawi. Setidaknya ada 6 teknik sintetis yang dikenal untuk pewarnaan tekstil, yaitu acid, direct, vat, sulphur, disperse, dan reaktif. Masing – masing teknik sintesis dibedakan oleh bahan pewarnaan yang dipakai.

Misalnya teknik sintetis acid memanfaatkan bahan asam untuk menghasilkan sebuah warna pada barang tekstil. Cara tersebut juga diterapkan saat memberikan warna pada benang candimas, kain tenun dan berbagai jenis pakaian.

Kedua teknik ini juga memiliki kelebihan dan kekurangannya masing – masing. Misalnya teknik mewarnai secara alami dapat dilakukan dengan memakai bahan alami, maka sudah dipastikan kelebihannya adalah lebih aman untuk kulit, tidak ada efek samping untuk kulit sensitive.

Namun kekurangannya adalah pilihan warnanya tidak banyak, tidak semua campuran seperti pada teori warna dapat diterapkan. Selain itu, dalam prosesnya membutuhkan waktu lama karena sebaran warnanya tidak bisa cepat.

Berbeda dengan sintetis, kelebihannya adalah ada banyak sekali pilihan warnanya, sebab menggunakan bahan kimia. Proses sebaran warnanya juga cepat, sehingga dalam proses pewarnaannya tidak membutuhkan waktu sangat lama.

Namun kekurangan sintetis dibanding pewarnaan alami adalah kurang aman untuk kulit sensitive, karena memakai bahan kimia.

5 Keunggulan Menggunakan Bahan Recycle Dibanding Import

Saat ini, tidak banyak orang yang tertarik menggunakan bahan recycle atau daur ulang karena dianggap tidak memiliki keuntungan. Sejauh yang Anda tahu, pasti ada banyak kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh produksi barang – barang dari bahan tidak ramah lingkungan.

 

Alasannya adalah karena beberapa barang yang diproduksi menggunakan bahan tidak ramah lingkungan, hanya akan menyebabkan limbah setelah tidak dipakai lagi. Itu sebabnya ada masalah seperti lamanya penguraian tanah, pencemaran air dan lain sebagainya.

Termasuk barang yang diproduksi oleh industry tekstil seperti kain dan pakaian, jika tidak menggunakan bahan ramah lingkungan, pasti hanya akan menimbulkan kerusakan lingkungan. Namun masih ada pabrik yang menggunakan bahan ramah lingkungan seperti Lakumas.

Industry tekstil tersebut memperhatikan kegiatan produksi benang, kain dan pakaian yang sebaiknya tidak mencemari lingkungan. Tentunya dengan menggunakan bahan daur ulang dibandingkan import dari luar negeri.

5 Keunggulan Menggunakan Bahan Recycle

Belum banyak orang tahu apa saja keuntungan memakai bahan hasil daur ulang, sehingga orang – orang lebih banyak memilih import dari luar negeri untuk kegiatan produksi tekstil. Berikut beberapa keuntungan jika Anda menggunakan bahan daur ulang.

  1. Lebih ramah lingkungan

Menggunakan bahan hasil daur ulang memiliki keunggulan yaitu lebih ramah lingkungan, karena dalam proses produksinya tidak menggunakan bahan – bahan kimiawi. Misalnya serat kayu yang tumbuh dari pohon bersertifikat dan tidak memakai pestisida.

Tencel tumbuh hanya dengan usaha para petani dalam menyuburkan tanahnya, tidak juga memakai pupuk berbahan kimiawi, tapi menggunakan pupuk berbahan alami. Jika sejak awal sudah menggunakan bahan utama seperti ini pada produksi tekstil, pasti lingkungan akan aman.

  1. Harga lebih terjangkau

Harga hasil daur ulang atau recycle juga lebih terjangkau jika dibandingkan import. Jika import, maka tidak hanya membayar harga bahannya, namun perlu juga membayar biaya lainnya yang diperlukan untuk mengirimkan bahannya dari luar negeri.

Meskipun mendaur ulang kelihatannya membutuhkan proses panjang dan sulit, namun harganya tetap terjangkau karena menggunakan barang bekas untuk didaur ulang. Menggunakan komposisi daur ulang juga akan menjamin keuntungan dari produksi tekstil.

  1. Masa pakainya lebih panjang

Masa pakainya juga lebih panjang, karena umumnya hasil daur ulang bisa tahan lebih lama dibanding lainnya. Dalam produksi tekstil, benang, kain dan pakaian tentu saja juga harus dibuat agar bisa dipakai lebih lama.

Jadi menggunakan hasil daur ulang sebagai bahannya tentu akan menjadi pilihan tepat bagi produksi tekstil. Itu sebabnya Lakumas juga menggunakan hasil daur ulang agar dapat mewujudkan kain dan pakaian tahan lama untuk semua pelanggan.

  1. Nyaman digunakan

Keunggulan lainnya adalah hasil daur ulang jika digunakan untuk spinning mill, tetap dapat menghasilkan kain dan pakaian yang nyaman digunakan. Kenyamanan saat dipakai tidak akan kalah dengan menggunakan bahan import dari luar negeri.

Banyak bahan hasil daur ulang yang nyaman digunakan. Misalnya benang candimas dengan tekstur halus dan sangat kuat untuk membuat kain tenun. Ada juga linen daur ulang dan katun organic.

  1. Tidak menjadi limbah

Keunggulan lainnya memakai hasil daur ulang untuk spinning mill adalah tetap menjaga lingkungan, karena hasil daur ulang tidak akan menjadi limbah berbahaya saat sudah tidak digunakan lagi.

Sebaiknya Anda mulai memilih kegiatan produksi di bidang tekstil yang hanya memakai bahan daur ulang. Karena salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan juga bisa diwujudkan dengan menggunakan bahan recycle dibanding import dari luar negeri.

Bahan Baku Ramah Lingkungan Industry Tekstil Tanpa Emisi Karbon

Mengenal bahan baku ramah lingkungan di industry tekstil harus Anda lakukan untuk membantu mengurangi emisi karbon. Industri tekstil yang bergerak untuk produksi kain, benang dan sejenisnya, terkadang masih menggunakan bahan tidak ramah lingkungan.

Padahal menjaga lingkungan adalah salah satu hal yang harus dilakukan oleh setiap jenis industry. Setiap pabrik memiliki tujuan produksi untuk mendapat keuntungan, namun sebaiknya, keuntungan tetap didapatkan dengan cara membantu menjaga lingkungan.

 

Itu sebabnya, Lakumas sebagai pabrik yang bergerak di industry tekstil selalu menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Bahan seperti itu juga bisa diproduksi menjadi kain atau pakaian yang nyaman digunakan.

Dengan kata lain, menggunakan bahan yang ramah lingkungan akan membantu Anda mendapatkan pakaian terbaik sambil tetap menjaga kesehatan lingkungan sekitar, karena menggunakan bahan tertentu akan menghindari dampak dari emisi karbon.

5 Bahan Baku Ramah Lingkungan Industry Tekstil

Industry tekstil terus bergerak untuk memenuhi kebutuhan pakaian. Berikut beberapa bahan untuk pembuatan benang, kain dan pakaian yang ramah lingkungan.

  1. Candimas

Candimas merupakan salah satu jenis benang dengan tekstur sangat halus dan sangat berkilauan, sehingga sering dipakai untuk membuat kain tenun. Benang ini memiliki komposisi utama yaitu serat kayu organic yang pohonnya sudah tersertifikasi.

Benang Candimas berperan besar membuat sebuah kain terlihat lebih cerah, apalagi jika sudah dicampur dengan pewarna kimia yang aman. Bagi orang Indonesia, candimas juga sering digunakan untuk membuat pakaian, karena teksturnya cocok untuk orang di negara tropis.

  1. Lyocell

Lyocell merupakan serat kayu halus atau disebut juga dengan bubur kayu. Lyocell diambil dari pohon terbaik dan menggunakan teknologi agar dapat mengurangi emisi karbon. Itu sebabnya Lyocell juga termasuk bahan tekstil ramah lingkungan.

Lyocell juga sering dikenal dengan nama Tencel. Lyocell bersifat lembut, ringan dan mampu membuat kulit bernafas. Dalam proses produksinya, Lyocell tidak memakai bahan kimia lain, bahkan tidak memakai pestisida untuk pertumbuhan, sehingga tidak akan menjadi limbah.

  1. Katun organic

Katun organic berasal dari pohon katun yang tumbuh tanpa pestisida dan pupuk kimia. Katun organic tumbuh dengan cara dijaga kesuburannya sehingga tidak memerlukan bantuan kimiawi. Oleh karena itu, katun organic sangat baik untuk dijadikan komposisi utama baju anak – anak.

Mengingat kulit anak – anak sangat sensitive, maka sudah seharusnya memakai katun organic. Banyak juga pabrik menggunakan katun organic sebagai bagian dari strategi rantai pasok lingkungan.

  1. Linen

Linen merupakan bahan industry tekstil yang aman dan paling sering digunakan saat ini, karena terlihat modern dan bahannya kuat. Linen dikenal sejak sangat lama, karena bisa digunakan untuk produksi pakaian jenis apa saja, mulai dari pakaian tidur, pakaian santai, dan lainnya.

Bahkan linen juga bisa digunakan untuk sprei, rasanya sangat lembut dan nyaman. Kebanyakan orang memilih linen karena bahannya yang kuat, bahkan jika sering dicuci, linen akan semakin kuat karena sifat aslinya adalah semakin kuat dalam keadaan basah.

  1. HEMP

HEMP terbuat dari serat tanaman bernama Cannabis Sativa dan sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Tanaman tersebut dilestarikan tanpa menggunakan bahan kimia sehingga sangat aman. HEMP juga terasa sangat nyaman di kulit, melindungi dari bakteri dan tahan sinar UV.

Meskipun tidak banyak pabrik spinning mill yang menggunakan beberapa jenis bahan tersebut, namun masih ada pabrik yang menggunakan bahan baku ramah lingkungan untuk proses spinning mill sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

5 Jenis Sarung Khas Indonesia yang Terkenal di Dunia

5 Jenis Sarung Khas Indonesia yang Terkenal di Dunia

Sejak pertama kali dibawa oleh pedagang Gujarat dan Arab masuk ke Indonesia pada abad 14, sarung memang sudah disukai oleh masyarakat Nusantara. Karena pakaian satu ini mudah dipakai dan tidak sulit proses pembuatannya, apalagi bisa digunakan laki-laki dan perempuan.

Setelah menyebar ke seluruh wilayah tanah air, sarung mulai melekat dengan adat serta istiadat setempat, bahkan kini menjadi salah satu ciri khas bangsa. Di beberapa daerah bahkan ada jenis sarung khas yang menjadi ciri dan kebanggaan daerah tersebut.

5 Jenis Sarung Tradisional Nusantara

Sarung-sarung di Indonesia memiliki ciri khas motif yang beragam, terutama jika merupakan tenunan tradisional. Motif dan desainnya masih sangat orisinil serta melambangkan kebudayaan yang tinggi dari daerah tersebut.

Bukan hanya ternama di Nusantara, jenis-jenis sarung tradisional berikut namanya juga sudah mendunia:

  1. Sutera Bugis Khas Sulawesi Selatan

Kain sarung ini merupakan kebanggaan masyarakat suku Bugis yang beradai di Sulawesi Selatan. Kain ini kerap disandingkan dengan Baju Bodo yaitu pakaian trandisional khas Bugis.

Motifnya sangat khas yaitu kotak-kotak atau garis-garis yang membentuk segitiga. Motif yang paling terkenal adalah Ballo Renni yaitu kotak-kotak berukuran kecil dengan warna cerah, biasanya dipakai oleh wanita lajang atau belum menikah.

Motif lainnya berbentuk kotak lebih besar ditenun menggunakan benang merah keemasan, digunakan oleh para lelaki lajang. Akan tetapi, sekarang penggunaan sutera Bugis ini tidak lagi sesuai status pernikahan, tapi lebih umum penggunaannya.

  1. Ulos Khas Sumatera Utara

Ulos merupakan salah satu jenis kain yang sudah terkenal hingga ke mancanegara. Biasa disebut sebagai kain Ulos yang menjadi pakaian khas suku Batak, Sumatera Utara.

Motifnya sangat beragam dan memiliki desain unik, seperti Ulos Mangiring, Ulos Parompa, dan Ulos Bintang Maratur. Setiap motif punya makna tersendiri, misalnya Ulos Bintang maratur yang bermotif rasi bintang beraturan maknanya adalah kepatuhan.

Kain ini sering dipakai untuk acara adat, salah satunya di acara pernikahan ada prosesi memakaikan sarung ulos pada pasangan pengantin.

  1. Tenun Khas Samarinda, Kalimantan Timur

Jenis kain ini menjadi salah satu budaya kebanggaan masyarakat Samarinda. Dibuat dengan teknik ikat dan menggunakan alat khusus yaitu gedokan membuat kain khas Samarinda satu ini sangat spesial.

Pengerjaannya masih tradisional sehingga untuk membuat satu kain setidaknya dibutuhkan waktu 3 hari pengerjaan. Motifnya juga sangat beragam, tapi didominasi oleh aksen geometris seperti motif kotak-kotak berukuran kecil atau besar berwarna-warni.

  1. Tenun Goyor Khas Jawa Tengah

Sarung tenun juga menjadi pakaian khas Jawa Tengah, tapi memiliki teknik pengerjaan berbeda dengan di Samarinda. Masih menggunakan teknik tenun, tapi memiliki motif berbeda. Terdapat dua jenis motif yaitu Botolan dan Werengan.

Botolan memiliki motif lebih bervariasi, seperti bintang, kuncup bunga, daun waru, atau bujur sangkar. Sedangkan werengan lebih banyak berbentuk bunga dan daun, seperti bunga kuncup, bunga mekar, bunga berkelopak 4 atau enam, maupun daun-daunan.

Penggunaan warna yang umum dipakai pada kain tenun Goyor adalah merah, hijau, biru, hitam, cokelat, putih, dan kuning.

  1. Tenun Poleng Khas Pulau Dewata Bali

Kain sarung Bali ini memiliki motif khas yaitu kotak-kotak berwarna hitam dan putih. Biasanya, jenis kain tenun poleng ini digunakan pada acara-acara keagamaan masyarakat Hindu di Pulau Dewata.

Sarung tenun poleng merupakan kain khas yang memiliki corak beraturan. Selain warna hitam dan putih, juga ada warna abu-abu dan merah. Penggunaan warna berbeda akan menjadikan jenis poleng yang berbeda pula.

Jadi, itu dia beberapa jenis sarung khas di Nusantara yang sudah dikenal hingga berbagai belahan dunia. Sarung sendiri merupakan ciri khas budaya Indonesia yang sudah sangat melekat. Saat ini tersedia hasil pabrikan untuk penggunaan sehari-hari dengan harga lebih terjangkau.

Apabila Anda butuh bahan mentah untuk pembuatan kain sarung, yaitu benang, bisa membelinya di Lakumas. Berbagai jenis benang seperti rayon, akrilik, tencel, dan ramie tersedia untuk dipesan serta dapat dikirim ke berbagai wilayah Indonesia.

Tinggal kunjungi website atau hubungi customer service Lakumas untuk pemesanan. Bisa juga berkonsultasi dahulu dengan customer service untuk pemenuhan kebutuhan Anda.

Mengenal Budaya Penggunaan Sarung Pria Bagi Masyarakat Indonesia

Mengenal Budaya Penggunaan Sarung Pria Bagi Masyarakat Indonesia

Masyarakat Indonesia tentu sudah tidak asing dengan sarung. Kain lebar yang dijahit pada kedua ujungnya ini berbentuk seperti tabung dan digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Sarung memang identik digunakan pria, tapi juga ada yang dapat digunakan wanita.

Hampir seluruh wilayah Indonesia menggunakan sarung dengan berbagai macam motif dan bahan pembuatnya. Pemanfaatannya bisa sebagai pakaian santai maupun resmi, bisa juga sebagai pakaian pelengkap.

Ternyata bukan hanya di Indonesia dan wilayah Asia Tenggara sarung atau sarong dipergunakan, tapi juga di wilayah Semenanjung Arab dan tanduk Afrika, seperti Mesir juga menggunakan pakaian ini.

5 Fungsi Sarung Pria dalam Budaya Indonesia

Di Indonesia, sarung menjadi salah satu pakaian yang keberadaannya tidak tergerus zaman. Dari semenjak ditemukan hingga kini masih banyak digunakan. Dulu, pada zaman penjajahan identik dengan para pejuang yang melawan masuknya budaya barat ke tanah air.

Kini, pemanfaatan atau fungsinya terdapat di berbagai bidang kehidupan masyarakat Indonesia. Di antaranya adalah memiliki fungsi sebagai berikut:

  1. Digunakan sebagai Pakaian saat Beribadah

Sangat umum jika ketika melakukan ibadah, khususnya umat muslim ketika sholat menggunakan sarung bagi kaum pria. Oleh sebab itu, pakaian ini identik sebagai pakaian sholat kaum pria.

Bahkan banyak yang menganggap jika tidak menggunakan sarung kurang afdol saat beribadah. Namun, ini hanya persepsi masing-masing individu saja.

Selain umat Islam, sarung juga digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali untuk beribadah. Bahkan merupakan pakaian wajib bagi umat Hindu ketika sembahyang maupun melakukan ibadah lainnya.

  1. Digunakan Bagian Pakaian Adat

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki berbagai macam adat dan budaya. Hal ini merupakan kebanggaan seluruh masyarakat. Salah satu bentuk budaya khas adalah pakaian adat dan sarung menjadi bagian dari pakaian adat ini.

Salah satunya Baju Bodo yaitu pakaian adat Sulawesi Selatan yang dipasangkan dengan sarung bermotif kotak-kotak pada bagian bawahnya. Selain itu, masih banyak daerah lain yang memiliki pakaian adat dengan sarung sebagai bagian di dalamnya.

  1. Sebagai Ciri Budaya Santri Indonesia

Sarung juga menjadi salah satu ciri kearifan lokal yaitu ciri budaya santri. Para santri yang berada di kawasan pondok pesantren biasanya menggunakan sarung sebagai pakaian sehari-hari. Digunakan ketika belajar, mengaji, sholat, juga tidur.

Sarung dan peci hitam menjadi ciri khas santri di Indonesia. Hal ini sudah diketahui umum dan masyarakat juga terbiasa melihatnya. Jika ada anak-anak atau remaja berpakaian atasan kemeja ditambah bawahan sarung dan peci hitam, maka dikenali sebagai santri.

  1. Sarung sebagai Filosofi Budaya Lokal

Fungsi lainnya adalah menjadi filosofi budaya lokal. Karena hampir setiap daerah memiliki motif tenun masing-masing yang diterapkan pada sarung atau kain tenun setiap daerah.

Meskipun sarung tidak asli dari Indonesia dan merupakan bawaan dari saudagar Arab dan Gujarat pada abad ke 14, tapi keberadaannya kini telah sangat melekat di masyarakat.

Ragam motif digunakan pada kain yang dipakai untuk pembuatan sarung menjadi ciri khas suatu daerah. Meskipun memiliki perbedaan corak dan motif, tapi pembuatannya menggunakan teknik yang sama yaitu tenun.

  1. Sebagai Patokan Kelas Sosial Penggunanya

Selain menjadi filosofi adat dan budaya masyarakat Indonesia, sarung juga memiliki fungsi sebagai patokan kelas sosial penggunanya. Salah satunya di daerah Bugis yang memiliki beragam motif dan motif-motif tertentu hanya dapat digunakan orang tertentu.

Jadi, motif sarung tenun tangan di Bugis hanya bisa digunakan oleh kaum bangsawan dan keturunannya. Sedangkan orang biasa biasanya menggunakan kain buatan pabrik berbagan katun dengan motif biasa.

Saat ini sarung dapat diproduksi dengan cara tradisional yakni menggunakan alat tenun tangan atau dibuat di pabrik. Bukan hanya motifnya yang beragam, tapi juga bahan yang digunakan. Ada dari bahan katun, polyster, rayon, sutra, bahkan benang wol.

Anda membutuhkan berbagai benang untuk produksi sarung atau jenis pakaian lainnya? Anda bisa menghubungi Lakumas. Perusahaan satu ini memproduksi berbagai macam jenis benang, seperti rayon, akrilik, tencel, dan ramie. Bisa langsung menghubungi Lakumas untuk mengetahui jenis produk, harga, dan pengirimannya.