Mengenal Budaya Penggunaan Sarung Pria Bagi Masyarakat Indonesia


Notice: Undefined index: sfsi_plus_mastodonIcon_order in /home/u4542783/public_html/clients/lakumas.com/wp-content/plugins/ultimate-social-media-plus/libs/sfsi_widget.php on line 1748

Notice: Undefined index: sfsi_plus_icons_AddNoopener in /home/u4542783/public_html/clients/lakumas.com/wp-content/plugins/ultimate-social-media-plus/libs/sfsi_widget.php on line 1702

Mengenal Budaya Penggunaan Sarung Pria Bagi Masyarakat Indonesia

Masyarakat Indonesia tentu sudah tidak asing dengan sarung. Kain lebar yang dijahit pada kedua ujungnya ini berbentuk seperti tabung dan digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Sarung memang identik digunakan pria, tapi juga ada yang dapat digunakan wanita.

Hampir seluruh wilayah Indonesia menggunakan sarung dengan berbagai macam motif dan bahan pembuatnya. Pemanfaatannya bisa sebagai pakaian santai maupun resmi, bisa juga sebagai pakaian pelengkap.

Ternyata bukan hanya di Indonesia dan wilayah Asia Tenggara sarung atau sarong dipergunakan, tapi juga di wilayah Semenanjung Arab dan tanduk Afrika, seperti Mesir juga menggunakan pakaian ini.

5 Fungsi Sarung Pria dalam Budaya Indonesia

Di Indonesia, sarung menjadi salah satu pakaian yang keberadaannya tidak tergerus zaman. Dari semenjak ditemukan hingga kini masih banyak digunakan. Dulu, pada zaman penjajahan identik dengan para pejuang yang melawan masuknya budaya barat ke tanah air.

Kini, pemanfaatan atau fungsinya terdapat di berbagai bidang kehidupan masyarakat Indonesia. Di antaranya adalah memiliki fungsi sebagai berikut:

  1. Digunakan sebagai Pakaian saat Beribadah

Sangat umum jika ketika melakukan ibadah, khususnya umat muslim ketika sholat menggunakan sarung bagi kaum pria. Oleh sebab itu, pakaian ini identik sebagai pakaian sholat kaum pria.

Bahkan banyak yang menganggap jika tidak menggunakan sarung kurang afdol saat beribadah. Namun, ini hanya persepsi masing-masing individu saja.

Selain umat Islam, sarung juga digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali untuk beribadah. Bahkan merupakan pakaian wajib bagi umat Hindu ketika sembahyang maupun melakukan ibadah lainnya.

  1. Digunakan Bagian Pakaian Adat

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki berbagai macam adat dan budaya. Hal ini merupakan kebanggaan seluruh masyarakat. Salah satu bentuk budaya khas adalah pakaian adat dan sarung menjadi bagian dari pakaian adat ini.

Salah satunya Baju Bodo yaitu pakaian adat Sulawesi Selatan yang dipasangkan dengan sarung bermotif kotak-kotak pada bagian bawahnya. Selain itu, masih banyak daerah lain yang memiliki pakaian adat dengan sarung sebagai bagian di dalamnya.

  1. Sebagai Ciri Budaya Santri Indonesia

Sarung juga menjadi salah satu ciri kearifan lokal yaitu ciri budaya santri. Para santri yang berada di kawasan pondok pesantren biasanya menggunakan sarung sebagai pakaian sehari-hari. Digunakan ketika belajar, mengaji, sholat, juga tidur.

Sarung dan peci hitam menjadi ciri khas santri di Indonesia. Hal ini sudah diketahui umum dan masyarakat juga terbiasa melihatnya. Jika ada anak-anak atau remaja berpakaian atasan kemeja ditambah bawahan sarung dan peci hitam, maka dikenali sebagai santri.

  1. Sarung sebagai Filosofi Budaya Lokal

Fungsi lainnya adalah menjadi filosofi budaya lokal. Karena hampir setiap daerah memiliki motif tenun masing-masing yang diterapkan pada sarung atau kain tenun setiap daerah.

Meskipun sarung tidak asli dari Indonesia dan merupakan bawaan dari saudagar Arab dan Gujarat pada abad ke 14, tapi keberadaannya kini telah sangat melekat di masyarakat.

Ragam motif digunakan pada kain yang dipakai untuk pembuatan sarung menjadi ciri khas suatu daerah. Meskipun memiliki perbedaan corak dan motif, tapi pembuatannya menggunakan teknik yang sama yaitu tenun.

  1. Sebagai Patokan Kelas Sosial Penggunanya

Selain menjadi filosofi adat dan budaya masyarakat Indonesia, sarung juga memiliki fungsi sebagai patokan kelas sosial penggunanya. Salah satunya di daerah Bugis yang memiliki beragam motif dan motif-motif tertentu hanya dapat digunakan orang tertentu.

Jadi, motif sarung tenun tangan di Bugis hanya bisa digunakan oleh kaum bangsawan dan keturunannya. Sedangkan orang biasa biasanya menggunakan kain buatan pabrik berbagan katun dengan motif biasa.

Saat ini sarung dapat diproduksi dengan cara tradisional yakni menggunakan alat tenun tangan atau dibuat di pabrik. Bukan hanya motifnya yang beragam, tapi juga bahan yang digunakan. Ada dari bahan katun, polyster, rayon, sutra, bahkan benang wol.

Anda membutuhkan berbagai benang untuk produksi sarung atau jenis pakaian lainnya? Anda bisa menghubungi Lakumas. Perusahaan satu ini memproduksi berbagai macam jenis benang, seperti rayon, akrilik, tencel, dan ramie. Bisa langsung menghubungi Lakumas untuk mengetahui jenis produk, harga, dan pengirimannya.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *