Sunset Industry : Textile di Indonesia

Industri textile tanah air setidaknya harus memenuhi kriteria benang ramah lingkungan agar tidak masuk ke dalam kategori sunset industry. Istilah matahari terbenam ini digunakan sebagai simbolis suatu industri sudah tidak bisa bersaing di tengah kemajuan zaman.

Sunset Industry Textile di Indonesia

Sunset industry merupakan kebalikan dari sunrise industry atau berbagai industri yang mampu bertahan serta menyesuaikan dengan zaman. Kebutuhan manusia akan bahan pakaian menjadikan tekstil tidak termasuk industri matahari terbenam, namun bisa terbenam.

Jika mempertahankan style lama yang tergerus kemajuan zaman maka bisnis dalam bidang apa saja tidak mampu bertahan pada era modern. Terlebih di zaman serba teknologi ini semua usaha dipaksa harus menyesuaikan diri agar mampu bertahan dari pesaing lama maupun baru.

Maju bersama Lakumas dalam bisnis industri 4.0 merupakan masa depan cerah terhadap perekonomian tanah air. Masyarakat dalam melihat sendiri bagaimana berbagai bisnis bertumbangan ketika mereka tidak mampu beradaptasi dengan zaman, contohnya Nokia.

Kriteria Sunset Industry

Semua industri nampaknya berpotensi menjadi salah satu sunset industry, apabila kondisinya seperti ini:

  1. Perkembangan Lamban

Bisnisnya bisa jenis lama maupun baru, namun keduanya dikatakan terbenam apabila mengalami perkembangan amat lambat. Untuk maju bersama Lakumas, perusahaan menciptakan terobosan demi membuat gebrakan agar usaha terus terang di antara gempuran zaman.

  1. Modal Minim

Kehabisan modal adalah permasalahan fatal ketika suatu bisnis tidak lagi berkembang. Jika sudah terjadi seperti ini bukan tidak mungkin perusahaan lain tertarik mengakuisisi karena melihat potensi masa depan cerah apabila dikelola di tangan orang lebih tepat.

  1. Tidak Ada Inovasi

Tentu saja yang menjadi permasalahan dasar adalah ketika pemilik usaha enggan membuat kebaruan. Padahal dalam dunia tekstil saja, gebrakan benang ramah lingkungan akan berperan besar terhadap masa depan usaha serta keasrian lingkungan hidup di sekitar kita.

Secara tegas tekstil dapat dikatakan mengikuti perkembangan industri 4.0 sehingga bukan termasuk sunset industry. Pakaian selalu mengikuti trend, dari yang mahal hingga paling murah diupayakan sedemikian rupa supaya seutuhnya dapat memenuhi kebutuhan publik.

Kawan Tekstil Jangan Sampai Tenggelam

Langkah maju bersama Lakumas dalam mengembangkan tekstil sebagai industri 4.0 bukan tebak-tebakan belaka. ICAEW atau The Institute of Chartered Accountants in England and Wales mengutarakan bahwa ada 3 komponen yang buat bisnis bisa bertahan saat ini:

  1. Trust
  2. Talent
  3. Technology

Kepercayaan adalah kunci utama karena itu menjadi modal transaksi dapat terjadi. Untuk mendapatkan kepercayaan dibutuhkan tenaga kerja profesional serta Andal. Kerja para pegawai akan semakin optimal ketika ditopang dengan dukungan teknologi agar sasaran terpenuhi.

Untuk mencegah terperosoknya textile industry ke dalam jurang matahari terbenam, peranan semua pihak sangat penting. Untuk perusahaannya sendiri wajib mengikuti perkembangan masyarakat demi menentukan produk hingga cara memasarkannya kemudian.

Sementara untuk publik mesti membuka diri pada teknologi dan beralih perlahan dari jual beli konvensional ke online. Namun, tentu saja tidak 100% berhenti berbelanja ke toko. Hanya saja pengetahuan transaksi daring lebih membantu ketika Anda ingin membeli suatu barang jauh.

Lakumas adalah salah satu perusahaan tekstil yang berupaya terus memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah era 4.0. Berbagai promosi hingga pemasaran dilakukan daring, bahkan sistem kerja seluruh karyawannya dilakukan tidak langsung atau melalui sambungan call.

Saat ini sudah bukan waktunya mengagungkan perjalanan bisnis senior dan junior. Untuk maju bersama Lakumas, sudah waktunya membuka diri lebih luas lagi.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *