Lakumas Edu : Mengenal Jenis Waste dan Asalnya

Mari maju bersama Lakumas dengan mengenal apa itu istilah waste secara umum. Waste merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris memiliki makna pemborosan. Istilah ini dapat dilekatkan pada berbagai situasi, termasuk dalam dunia manufaktur pada PT Lakumas. Sementara itu jika dikaitkan dengan industri manufaktur maka pengertian waste merupakan berbagai proses yang tidak memiliki nilai tambah. Sesuai dengan istilahnya, waste merupakan segala sesuatu yang harus dibuang karena cocok disebut sebagai sampah dari sekian elemen.

Menghilangkan elemen tersebut bukan pilihan sebab jika tidak justru akan mengurangi keuntungan perusahaan hingga menjadi beban terhadap perusahaan tersebut. Definisi ini tidak hanya mengacu pada material tertentu, namun juga terhadap sumber daya tersedia.

Contoh dan Sumber Actual serta Reuse Waste

Dalam dunia industri pemintalan benang, istilah waste dibagi berdasarkan dua hal, yaitu actual waste dan re-used waste. Actual terbagi menjadi sweeping, majun, undercasing, dan lapping. Sementara re-used terbagi-bagi menjadi flatstreep, pneuma, roving streeper, dan sliver.

Istilah sweeping sebagai pemborosan aktual dapat diistilahkan selaku ampas dari sortir manual. Contoh ini merupakan salah satu actual waste pada dunia manufaktur benang, di mana terlepas dari fungsinya pasti senantiasa ada karena melengkapi rangkaian produksi.

Waste Majun

Majun atau kain lap yang saat ini kita kenal luas merupakan pemborosan aktual dari industri manufaktur benang. Lakumas berusaha untuk meminimalisir majun dalam industri dengan menjaga kualitas benang, hal ini merupakan upaya untuk menciptakan benang ramah lingkungan. Majun disebut sebagai reject karena tidak semua berkualitas bagus.

Sementara itu untuk pemborosan yang masih bisa digunakan atau reused ada roving streeper. Roving streeper merupakan hasil potong roving dengan mesin sehingga benda terbuangnya adalah sisa dari proses yang terjadi pada mesin tersebut. Bentuknya menjadi potongan pendek dari roving tersebut.

Jenis reuse lainnya adalah sliver adalah sisa potongan atau irisan dari hasil produk carding dan drawing yang digunakan kembali. Re-use ini berupa serat fiber yang sudah tergabung menjadi kumpulan serat fiber panjang. Slogan maju Bersama lakumas membuat kami harus menjaga kualitas benang yang dihasilkan, oleh karena itu sliver yang yang tidak lulus cek kualitas akan proses kembali sehingga meminimalisir terbentuknya actual waste.

Terakhir adalah lapping, salah satu istilah yang digunakan pada actual waste. Lapping biasa terbentuk pada putaran sliver yang mengeras atau menggumpalnya roving pada saat proses produksi.

Dampak dan Solusi Actual Waste

Setiap industri manufaktur pasti menyisakan limbah dari hasil produksi barang tertentu. Dalam hal ini, Lakumas berniat menciptakan benang ramah lingkungan dengan meminimalisir pemborosan aktual dalam berbagai bentuk. Jika ada maka diupayakan dapat digunakan kembali.

Sebab apabila actual waste terus melesat angkanya maka dampak buruk menanti lingkungan kita. Beberapa sampah tidak terurai dapat membuat ekosistem bumi berubah hingga kemampuan tanah menyerap air tidak lagi optimal karena terlalu banyak limbah.

Berbagai upaya agar waste tidak berkelanjutan adalah melakukan pengukuran terhadap berbagai elemen supaya tidak ada yang berakhir dalam tempat sampah. Dalam hal ini bukan hanya berkenaan dengan material, namun juga berkaitan dengan sumber daya di sekitar.

Untuk bisa maju bersama Lakumas, semua orang mesti berperan aktif meminimalisir terjadinya pemborosan cuma-cuma. Proses pengukuran dapat mengambil referensi dari proses produksi sebelumnya serta tentunya bukan hal sulit dilakukan oleh para profesional berpengalaman.

Lakumas berupaya untuk meminimalisir pembuangan sampah sisa produksi dan menjadikannya sebagai benda berguna untuk dimanfaatkan. Ketika jatuh pada orang yang tepat maka manajemen segala sesuatu tidak akan banyak berakhir dalam tempat sampah.

Industri manufaktur benang mendukung keberadaan pakaian kita. Komitmen untuk menciptakan benang ramah lingkungan perlu didukung.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *